Seperti dilansir dari NDTV.com, Sabtu (22/5/2010), Bandara Mangalore memiliki landasan pacu yang terletak di atas bukit, yang menuntut akurasi tanpa kesalahan saat melakukan pendaratan. Menurut sumber, pilot pesawat tidak melaporkan adanya kerusakan apapun ke Airport Traffic Control (ATC) Bandara Mangalore sebelum mendarat.
Pesawat Air India jenis Boeing 737-800 tersebut dikemudikan oleh pilot berkebangsaan Serbia, Z Glucia dan co-pilot Kapten S S Ahluwalia. Sesuai dengan rekam jejaknya, Glucia merupakan seorang pilot berpengalaman dan sudah terbiasa dengan dataran Mangalore. Glucia bahkan sudah melalui rute tersebut beberapa kali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyebab pasti peristiwa naas tersebut belum diumumkan secara resmi oleh pemerintah setempat. Namun informasi awal dari beberapa sumber menyebutkan, pesawat sempat terbalik dan menyerempet salah satu antena Instrument Landing System (ILS) di landasan pacu.
Kemudian pesawat melampaui landasan pacu, lalu menabrak hutan, terbelah, dan meledak. Beberapa penumpang berhasil selamat karena terlempar keluar dari pesawat sesaat sebelum pesawat menabrak hutan.
Bahkan menurut laporan yang belum bisa dikonfirmasi, kemungkinan ada ban yang pecah sehingga membuat pilot pesawat kesulitan menghentikan pesawat. Mantan Inspektur Penerbangan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Laksamana Penerbang Denzil Keelor mengatakan, tidak ada cukup ruang bagi pilot untuk menghentikan pesawat setelah dia lepas kendali atas pesawatnya.
Dikatakan Denzil, Bandara Mangalore tidak memiliki wilayah overshoot, sehingga sangat tidak diharapkan untuk terjadi kesalahan pendaratan sekecil apapun. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara telah menerjunkan tim untuk menyelidiki penyebab kecelakaan. Fokus utamanya adalah menemukan kotak hitam agar tim bisa mengetahui kejadian terakhir di kokpit pesawat. (nvc/gah)











































