"Iya, Ahmadi dipukul, diancam tembakan dan keluarganya diancam," kata Aziz rekan Ahmadi saat dihubungi detikcom, Jumat (21/5/2010).
Kejadian ini bermula ketika Ahmadi didampingi wartawan lain Aziz dari News Investigasi Medan meliput berita banjir di Kecamatan Alapan, 40 km di utara Sinabang, Kab Simeulue pada Rabu (19/5) lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Faisal meminta berita tidak dinaikkan. Namun pada Kamis (20/5) berita tetap terbit.
"Hari Jumat pagi pukul 10.00 WIB, kami didatangi Intel Kodim bernama Kardiyan saat lagi minum kopi," kata Aziz.
Mereka diajak ke Kodim. Namun setibanya di sana Aziz, disuruh pulang sementara Ahmadi diminta tinggal. Aziz pun pulang ke rumah. Sejam kemudian, Ahmadi pulang diantar Kardiyan. Namun ada yang tidak beres dengan Ahmadi.
"Ahmadi menangis. Dia bilang, saya kena tumbuk dua kali di kepala, sekali di dada," kata Aziz menirukan temannya.
Ahmadi juga mengaku diancam dengan tiga kali tembakan, namun peluru sengaja tidak diarahkan. Hanya untuk menakut-nakuti Ahmadi. Sementara ponsel dibanting hingga rusak. Laptop pun dilempar, namun hanya sedikit rusak karena berada di dalam tas.
"Kami segera ke RSU Simeulue untuk visum. Dada Ahmadi lebam dan kepalanya benjol," jelas Aziz. Pemukulan ini pun telah dilaporkan ke Polsek setempat dan Kodam Iskandar Muda.
(fay/and)











































