"Belum bisa diidentifikasi karena belum ada yang mengaku sebagai keluarga, sehingga kita juga gelap untuk data pembandingnya," ujar Wakil Kepala Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Zainuri Lubis di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Jumat (21/5/2010).
Dikatakan Zainuri, tidak adanya data pembanding tersebut membuat tim labfor dan dokter kepolisian belum mampu mengidentifikasi jenazah tersebut. "Karena yang bersangkutan tidak ada identitas. Kalau saja ada nama, ada rumah, atau ada apa ya setidaknya bisa kita cari," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita sudah tanya mereka siapa keluarganya di mana, kita juga belum dapat. Kesulitan kita belum ada keluarga yang mengaku ataupun yang menjenguk, sehingga kita kesusahan untuk data pembandingnya," jelas dia.
Terhadap satu jenazah yang belum dikenali tersebut, Zainuri mengatakan, saat ini jenzah tersebut masih berada di RS Polri, Jakarta Timur. Jenazah tersebut disimpan di dalam freezer supaya tidak membusuk, namun tidak tahu hingga kapan.
"Itu kan kita tidak punya batasan waktu ya, bisa tujuh hari, sebulan. Kan kita punya lemari penyimpanan mayat, sehingga mungkin dalam waktu cukup lama tidak akan busuk," terangnya.
Zainuri menjelaskan, saat itu para terduga teroris dalam kondisi melakukan perlawanan dan mengancam keselamatan petugas di lapangan karena diketahui membawa senjata. "Kalau enggak mengancam ya enggak ditembak," ucapnya.
Meskipun belum dikenali identitasnya dan belum pasti apakah benar teroris atau bukan? "Itu adalah teknis penyelidikan oleh reserse, yang tentunya tidak bisa diinformasikan," jawab Zainuri.
Pada saat penggerebekan teroris di Cawang dan Cikampek pada 12 Mei lalu, 5 orang terduga teroris tewas tertembak, 3 orang tewas di Cawang dan 2 orang di Cikampek. Dari 5 orang yang tewas, 4 orang telah berhasil diidentifikasi. Mereka adalah Maulana, Saptono, Ujang Michodi, dan Dani Rachmadani.
(nvc/mok)










































