Semula aksi mahasiswa berjalan lancar dan tertib. Para mahasiswa yang tergabung dalam Komite Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Sumut menggelar orasi di tangga gedung DPRD Sumut. Setelah satu jam berorasi, tidak seorang pun anggota DPRD Sumut yang menemui mahasiswa. Akibatnya mahasiswa menjadi kesal dan ngotot masuk ke dalam gedung DPRD Sumut. Pagar gedung DPRD Sumut yang tertutup, didorong dengan keras sambil meminta anggota dewan keluar dari ruangnnya.
Guna mengantisipasi yang tidak diinginkan, dua anggota DPRD keluar menemui mahasiswa masing-masing Muhammad Affan selaku Wakil Ketua DPRD Sumut dan Andi dari Fraksi PKS. Aksi dorong pagar kemudian mereda setelah kehadiran kedua anggota DPRD Sumut ini.
Kepada anggota dewan, mahasiswa secara tegas menyatakan kecewa dengan perjalanan reformasi yang tidak sesuai dengan harapan, termasuk dalam bidang pemberantasan korupsi Gubernur Sumut Syamsul Afifin yang terindikasi menyalahgunakan dana APDD saat menjabat sebagai Bupati Langkat.
Kordinator aksi, Juanda Sukma mengatakan, dari enam agenda penting reformasi, hanya mengadili Soeharto yang telah dijalankan. Sedangkan lima agenda lainya yaitu penegakan supremasi hukum, pencabutan dwifungsi ABRI, Amandemen UUD 45, otonomi seluas-luasnya, budaya demokrasi sehat, egaliter serta penghapusan KKN, hingga kini belum mengalami perbahan berarti.
"Perjuangan reformasi yang merenggut nyawa mahasiswa akan sia-sia jika perjalanan reformasi tidak sesuai harapan. Pemerintah belum sepenuhnya menjalankan agenda penting yang telah disepakati dalam reformasi," kata Juanda.
Menanggapi tuntutan mahasiswa, Wakil Ketua DPRD Sumut, Muhammad Affan mengatakan, akan melanjutkan tuntutan mahasiswa kepada DPR RI di Jakarta secepatnya.
(djo/djo)











































