Mantan Rektor Nilai Pemeringkatan Internasional ITB Tidak Adil

Terlempar dari 100 Besar Asia

Mantan Rektor Nilai Pemeringkatan Internasional ITB Tidak Adil

- detikNews
Jumat, 21 Mei 2010 15:56 WIB
Bandung - Institut Teknologi Bandung (ITB) terlempar dari 100 besar perguruan terbaik Asia menurut versi QS Top University Ranking. Mantan rektor dan alumni pun tidak terima karena pemeringkatan dinilai tidak adil.

Mantan Rektor ITB Prof Dr Ir Djoko Santoso MSc menilai ada perbandingan yang tidak seimbang, sehingga peringkat ITB anjlok. ITB yang fokus dengan ilmu teknik dibandingkan dengan universitas lain yang mempelajari ilmu sosial, MIPA, ekonomi, kedokteran, hukum, dan sastra.

"Perlu diketahui, ITB itu kampus yang fokus di IT and Engineering. Di ITB tidak ada bidang hukum atau sastra. Artinya komparasinya harus seimbanglah," ujar Djoko dalam rilis Ikatan Alumni (IA) ITB kepada detikcom, Jumat (21/5/2010).

Pada 2010, ITB melorot ke peringkat 113. Padahal tahun sebelumnya, ITB ada di peringkat 80 dunia. Sebagai perbandingan, Universitas Airlangga mencatat kenaikan signifikan dan kini berada di atas ITB.

"Jika ITB disandingkan dengan universitas lainnya yang memiliki studi sastra, ekonomi dan kedokteran, bakal kalah terus," tambahnya.

Survei tersebut pun dinilai kurang tepat karena dalam scopus.com, ITB menempati posisi nomor 1 untuk jumlah paper yang dirujuk oleh dunia internasional. Ketika ditanya apakah ITB akan meminta klarifikasi kepada pelaku survei, menurutnya hal itu bukan wewenang IA ITB tapi pihak rektorat.

Sementara itu IA ITB juga merasa keberatan dengan hasil QS. "Kami selaku alumni jelas keberatan dengan dengan lansiran QS yang menyatakan ITB turun peringkat jadi ke-113," kata Direktur Eksekutif IA ITB, Muhammad Azhar.

Ia mengatakan, Ikatan Alumi (IA) ITB juga mempertanyakan landasan yang digunakan oleh QS dalam membuat rangking atau peringkat bagi universitas top di Asia.

"Dalam melakukan pemeringkatan yang dilakukan QS, ITB sebagai kampus yang berbasis IT dan Teknik dibandingkan dengan Universitas. Harusnya institut dengan institut dong," ujarnya.

(fay/nrl)


Berita Terkait