Lelaki yang menunggu itu adalah Yani Efendi. Sedangkan lelaki tua yang ditungguinya adalah Gesang, salah satu komponis kenamaan yang masih dimiliki Indonesia hingga saat ini. Yani adalah kemenakan Gesang. Dia anak lelaki Thoyib, adik kandung Gesang.
Sejak Rabu pekan lalu, Gesang memang kembali masuk rumah sakit. Di usia hampir 93 tahun, kondisi fisik Gesang memang semakin ringkih. Setahun terakhir dia telah bolak-balik ke rumah sakit. Kali ini kondisi jantung dan parunya yang lemah. Selain itu dia juga sulit menerima asupan makanan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semalam Simbah (Gesang) meracau dan sangat lemah. Kami khawatir juga. Inginnya ngomong dan bahkan menyanyi, tapi terlihat sudah kelu. Tapi kondisi pagi ini relatif stabil untuk ukuran pasien sakit seusia beliau. Pagi ini dilakukan pemeriksaan paru dan jantung," ujar Yani kepada wartawan.
Diantara sejumlah kerabat, Yani memang paling sering menunggui. Sejak beberapa tahun terakhir memang Gesang tinggal di rumah Thoyib, adiknya, di kampung Kemlayan, Solo.
Di rumah itulah Gesang menghabiskan masa tuanya bersama keluarga besar. Bersama Thoyib dan keluarga Yani Efendi yang tinggal serumah dengan bapaknya. Sedangkan rumah Gesang di Perumnas Palur, Karanganyar, dibiarkan kosong. Alasannya karena kondisinya yang sudah tua sehingga mengkhawatirkan jika hidup sebatang kara.
Gesang memang tidak memiliki siapa-siapa lagi. Dia menikah hanya beberapa tahun saja di masa mudanya. Setelah bercerai, dia memilih tidak menikah lagi. Perkawinan yang hanya sebentar itupun tak membuahkan keturunan.
Karenanya hidup Gesang memang nyaris tak punya apa-apa. Bahkan rumah tipe 36 di Perumnas Palur itupun merupakan pemeberian dari almarhum Soepardjo Roestam saat menjabat Gubernur Jateng. Soepardjo iba dengan nasib Gesang yang saat itu hidup mengontrak di rumah sangat sederhana.
(djo/djo)











































