Di mulutnya tertutup dengan lakban dan tubuhnya penuh dengan lumpur, sambil keduanya membuka setiap lembaran buku catatan sekolah yang dibawanya.
Adegan tersebut di atas merupakan aksi teatrikal tentang gambaran atas nasib para pelajar dan warga yang menjadi korban lumpur Lapindo di Taman Ayodya, Jl Barito, Jakarta Selatan, Sabtu (15/5/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Makan adalah hak dasar manusia. Lapindo telah menghilangkan hak makan warga Porong. Kita lebih mehgharapkan solidaritas dari masyarakat," ujar perwakilan pemuda penyelenggara 'Makan Gratis Bersama', Mitha.
Menurut Mitha, kasus lumpur Lapindo tidak pernah terselesaikan oleh pemerintah dan semakin banyak warga yang harus menderita akibat lumpur Lapindo.
"Lihat saja,Β pemerintah hanya bisa ngoceh tanpa ada aksi. Bilangnya sudah ditangani baik tapi tidak," jelasnya.
Kembali ke teatrikal, dua pemuda kemudian harus mengais dan meraung untuk meminta makan, ketika dua pemuda yang datang belakangan dengan berpakaian necis sambil memegang telepon selular hanya bisa berbicara tanpa melihat ke bawah.
Aksi ini juga menandai sebuah peringatan atas perisitiwa tragis 4 tahun silam, saat lumpur pertama meluap ke atas tanah pada 26 Mei 2006 di Desa Renokenongo, Sidoarjo, Jawa Timur. Lumpur yang kemudian menggenangi 12 desa seluas 800 hektar.
(fiq/nwk)











































