Teror di Mumbai memang mengerikan. Saat itu, Rabu 26 November 2008, pukul 21.20 waktu setempat, sekelompok orang bersenjata tiba-tiba menembak membabi buta di stasiun kereta Chhatrapati Shivaji, Mumbai, India.
Sejam kemudian, serangkaian serangan lainnya terjadi di empat lokasi lain. Nariman House, bangunan milik kelompok Yahudi ultra-ortodoks serta Chabad Lubavitch, yang ramai dikunjungi turis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Serangan para teroris ini membuat situasi Kota Mumbai seperti neraka. Mayat dan darah mengalir di mana-mana. Para teroris yang menamankan diri mereka Decaan Mujahidin itu, terus menembak dengan senapan serbu AK-47 mereka.
Pemerintah India menerjunkan pasukan antiterornya untuk membebaskan sandera dan menghancurkan kelompok teroris ini. Mereka mendapat perlawanan yang gencar. Rentetan tembakan menyulitkan satuan antiteror ini mendekati sasaran.
Baru akhirnya pada Sabtu, 29 November 2008, operasi antiteror dinyatakan usai. Total 174 orang tewas dan ratusan lainnya terluka dalam tragedi ini.
Serangan di Mumbai menjadi sorotan dunia. Hampir seluruh negara di dunia mengecam aksi teror yang tidak berperikemanusiaan ini.
Indonesia pun tidak ingin kecolongan seperti India. Peristiwa inilah yang menjadi salah satu latar belakang digelarnya latihan bersama pasukan antiteror TNI-Polri. Latihan digelar serempak di empat titik: bandara, pelabuhan dan laut lepas, kawasan perkantoran, serta pembebasan VIP di hotel berbintang. Mengantisipasi serangan secara bersamaan di beberapa titik. Latihan ini rutin digelar setiap tahun.
Polri lewat Densus 88 pun terus melakukan perburuan para tersangka teroris. Polri melakukan penggerebekan di Cawang, Cikampek hingga Sukoharjo. 5 Orang tewas dan 5 ditahan dalam pengerebekan selama 3 hari terakhir ini.
(rdf/rdf)











































