Sehari-hari, Heri beserta anak istrinya masih tinggal di rumah mertuanya, Ngatino. Dia beserta keluarganya tinggal di di lantai atas. Di situlah, menurut tetangga dan keluarga, setiap harinya sepulang dari sekolahan Heri menghabiskan waktu untuk menyervis komputer orang yang dikirim ke rumahnya karena rusak.
"Paling-paling keluar rumah ya hanya untuk sholat di masjid kampung yang cuma berada tak jauh dari rumahnya. Setelah itu ya kembali ke rumah. Saya yakin orangnya baik dan tidak pernah terlibat urusan apapun selama ini," ujar Sunaryo, tetangga Heri, Jumat (14/5/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tinggal serumah dengannya bertahun-tahun. Hingga dia beranak empat sekarang, saya tidak pernah mendengar dia berpendapat mendukung kelompok teroris apalagi melakukannya. Bahkan dia keluar rumah saja selalu bersama anak-anaknya. Mana mungkin dia bisa melakukan kegiatan teror bersama anak-anak kecil," ujarnya.
Ngatino terlihat sangat kaget. Dia memang baru pulang mengurus usaha pakan ternak miliknya ketika polisi meninggalkan rumahnya dan banyak orang berkerumun di depan rumahnya.
Dia sendiri mengaku engaku bertemu terakhir pada Jumat pagi tadi sebelum Heri berangkat kerja. Hal serupa juga disampaikan Khotimah, istri Heri. Heri berangkat kerja Jumat pagi dan selanjutnya dia pulang bersama polisi untuk mengambil komputer di rumah dan kembali dibawa pergi.
Ngatino yakin, dua unit komputer yang dibawa itu adalah milik orang yang minta diservis, karena memang Heri membuka servis komputer di rumahnya. "Saya yakin dia tidak terlibat terorisme. Saya yakin dia hanya tersangkut karena di komputer milik orang itu ada isinya yang mencurigakan," lanjut Ngatino.
(djo/djo)











































