Hal itu disampaikan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar Prof. Dr. Azhar Arsyad saat memberikan kuliah umum di Università Napoli Orientale (UNO), Napoli, Italia, Rabu (12/5/2010).
Menurut Azhar, sembilan sufi terkemuka di Indonesia atau Wali Songo mengajarkan Islam dengan semangat penuh toleransi mengenai persamaan manusia di lingkungan masyarakat Indonesia yang berbeda agama, kepercayaan dan budaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan, bahwa terorisme yang sempat mengguncang Indonesia beberapa tahun lalu bukanlah ajaran Islam, tetapi hanya tindakan sekelompok kecil penganut Islam yang membajak agamanya dengan interpretasi menyimpang atau karena semata-mata didorong oleh kepentingan politik tertentu.
"Hal serupa juga terjadi pada perjalanan sejarah semua agama, termasuk penganut Kristen di Irlandia, Hindu di Srilangka dan Budha di Myanmar," tegas Azhar.
Azhar meyakini bahwa kelompok fundamentalis ekstrim yang jumlahnya tidak lebih dari 2 prosen dari sekitar 240 juta penduduk Indonesia tidak akan mampu bertahan lama. "Karena masyarakat Indonesia yang demokratis tidak akan mau didikte oleh kelompok yang memperjuangkan kepentingannya melalui jalan kekerasan," papar Azhar.
Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia yang dapat mengamalkan Islam dan demokrasi secara harmonis, Indonesia dalam beberapa tahun terakhir aktif memajukan dialog antar-agama dan budaya, bukan hanya dalam lingkup bilateral, tetapi juga antarkawasan dan bahkan di tingkat global.
Lebih lanjut Azhar mengajak sekitar 75 mahasiwa dan dosen yang hadir untuk mempelajari lebih mendalam lagi model Islam di Indonesia di berbagai perguruan tinggi Indonesia.
Melalui Prof. Agustino Cilardo, Dekan Fakultas Studi Islam-Arab, Rektor UIN Alauddin itu menawarkan beasiswa kepada mahasiswa UNO untuk belajar model Islam di Indonesia di Makassar selama satu semester atau satu tahun melalaui program beasiswa, yang disambut tepuk tangan meriah para mahasiswa.
Konselor Pensosbud Musurifun Lajawa kepada detikcom menuturkan bahwa kuliah umum di Napoli bertema “Perkembangan Islam di Indonesia” itu merupakan upaya rintisan KBRI Roma untuk mengenalkan Islam di Indonesia pada Fakultas Studi Islam UNO, sebuah perguruan tertua di Italia, yang mengajarkan studi ketimuran sejak tiga abad silam.
Pada kesempatan sama, juga telah diserahkan 128 buku tentang Indonesia yang berasal dari sumbangan pribadi para staf KBRI Roma kepada Dekan Fakultas Sastra dan Filsafat UNO, Prof. Amneris Roselli.
"Diharapkan hal tersebut tidak saja melengkapi koleksi kepustakaan UNO, tetapi juga dapat mendorong minat para mahasiswa setempat kepada studi bahasa dan sastra Indonesia di Italia," demikian Musurifun.
(es/es)











































