Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional Akan Bahas Terorisme

Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional Akan Bahas Terorisme

- detikNews
Kamis, 13 Mei 2010 18:35 WIB
Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional Akan Bahas Terorisme
Kairo - Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4) akan menggelar workshop internasional di Kairo membahas terorisme. Diharapkan hasil rekomendasi solutif bagi pihak-pihak terkait di Indonesia, misalnya BIN.

Demikian siaran pers I4 Wilayah Timur Tengah yang diterima detikcom siang ini, Kamis (13/5/2010).

Workshop yang akan digelar di Kairo, Mesir, pada 11-12/7/2010 itu sekaligus sebagai sosialisasi I4 untuk kawasan Timur Tengah, Asia Selatan dan Afrika. I4 dicetuskan pada Simposium Internasional PPI Dunia di Den Haag, 3-5/7/2009 lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Direncanakan akan hadir Ketua PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, Rektor Paramadina/Dewan Penasihat I4 Dr. Anis Baswedan, Prof. Dr. Fasli Jalal, Koordinator I4 wilayah Asia Dr. Andreas Raharso (Singapura), Dewan Pertimbangan I4 Dr. Muhammad Reza (Swedia) dan Ir. Agusman Effendi (Jakarta) serta representasi ilmuwan dari kawasan Timur Tengah, Asia Selatan dan Afrika.

Koordinator I4 Wilayah Afrika dan Timur Tengah Dr. Fadlolan Musyaffa, MA, mengatakan bahwa selain topik terorisme, workhsop juga akan membahas human trafficking, yang hasilnya diharapkan juga dapat bermanfaat bagi Depnaker.

Sejauh ini kepanitiaan, yang mensinergikan semua elemen mahasiswa Indonesia Mesir dan beberapa pihak dari kawasan terkait, sudah mulai berjalan dengan baik.

Bagi Badan Kerjasama Persatuan Pelajar Indonesia (BK PPI) Timteng dan sekitarnya, kegiatan ini dinilai benar-benar sebagai tantangan untuk bersinergi membuktikan kontribusi dan potensi keilmuan mereka dalam arsitektur I4.

Sementara itu Sekjen I4 Achmad Adhitya, MSc mengharapkan melalui workshop ini I4 dapat disosialisasikan seluas-luasnya di kawasan Timur Tengah, Asia Selatan dan Afrika.

"Agar kawasan ini bisa mengkonsolidasikan potensi ilmuwan-ilmuwannya, demi memotivasi rasa percaya diri sebagai bangsa yang sebenarnya cerdas dan berkemampuan tinggi," demikian Aditya.

(es/es)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads