Statusnya memang istri, namun nasib para wanita ini seperti budak. Jika suami mereka tidak puas mereka bisa dijual pada lelaki lain. Beberapa wanita mengalami dijual sebanyak 7 atau 8 kali.
"Para wanita ini tidak tahu apa yang akan mereka alami di China. Mereka dijanjikan akan mendapatkan pekerjaan yang bagus dan uang yang banyak," ujar Kepala Durihana Association, Chun Ki-Won, seperti ditulis AFP, Kamis (13/5/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Chun menjelaskan sebagian besar wanita ini juga dipaksa bekerja sebagai pekerja seks online. Mereka dipaksa menanggalkan bajunya dan melakukan live chating bersama seluruh pelanggan di seantero dunia.
Para wanita ini tidak bisa protes atau meminta dikembalikan ke Korut. Sebab, hukuman yang mengerikan menunggu mereka di Korut jika terbukti lari dari negara itu.
Para agen membawa wanita ini dari Korut. Iming-iming kehidupan yang lebih baik di China memikat mereka yang miskin. Para agen pun diduga menyuap penjaga perbatasan untuk meloloskan para wanita ini. Besarnya kira-kira US$ 75 hingga US$ 150.
Sebagai pendatang haram, wanita-wanita ini tidak punya hak apapun. Anak hasil perkawinan mereka dengan pria China ini tidak diakui, dan terkatung-katung tanpa identitas dan kewarganegaraan.
"Permasalahan terbesar adalah anak yang beribu Korut dan berayah China," pungkas Chun.
(rdf/fay)











































