"Mereka itu bukan orang permukaan, seperti Noodin M Top tetapi underground. Koneksinya luas ada di Malaysia, Aceh dan Filipina. Tetapi kalau benangnya ditarik, ujung-ujungnya NII dan Daulah Islamiyah. Mereka ingin membuat RI jadi negara Islamiyah," kata pengamat terorisme Mardigu W kepada detikcom, Rabu (12/5/2010).
Mardigu mengatakan, teroris NII tidak jago perang. Namun, jumlahnya banyak. "Jaringan ini lebih berbahaya. Kalau dulu panji AS yang dihajar. Sekarang,Β panji nasional seperti pemimpin negara, bisa lokasi strategis," ujar Mardigu.
Menurut Mardigu, bentuk aksi gerakan NII belum terbaca. "Yang sudah terbaca pengumpulan dana dan perekrutan massa, kaderisasi. Dana mereka dari lokal seperti hasil merampok. Kayak teroris yang ditangkap di Medan, terbukti merampok," papar dia.
Ketika ditanya kaitannya dengan Ba'asyir yang disebut-sebut terlibat kelompok teroris di Pejaten, Mardigu menjelaskan gerakan teroris terdiri dari hard dan soft.
"Hard itu banyak action. Sedangkan soft itu masalah ideologi. Ba'asyir ideologinya keras. dia bukan hard teroris yang ngebom. Tetapi dia berideologi keras," kata Mardigu. (aan/ndr)











































