"Kami senang bisa melaksanakan nikah massal. Semoga menjadi pasangan yang sakinah," ujar Asisten Walikota Jakarta Utara Bidang Kesejahteraan, Akhyar Masjid Nur Darajatun, Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (12/5/2010).
Meski rata-rata para pasangan sudah menikah selama puluhan tahun, Akhyar tetap meminta untuk merayakan pernikahan ini dengan semangat masih muda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada kesempatan itu, Corporate Affairs Manager Jakarta International Container Terminal (JICT) Agus Barlianto mengatakan,Β pihaknya merasa sangat senang bisa menyelenggarakan nikah massal bagi para warga.
"Pernikahan memiliki arti yang sangat penting. Keluarga dibagun tidak hanya atas nilai agama, tapi juga hukum," jelasnya.
Berdasarkan pantuan detikcom, kelima puluh pasangan ini duduk berdampingan di atas kursi. Pengantin laki-laki mengenakan baju gamis berwarna putih dan pengantin perempuan memakai baju terusan putih dan mengenakan kerudung abu-abu.
Β
Para pasangan tersebut menunggu giliran untuk dipanggil namanya untuk duduk di atas pelaminan berwarna cokelat dan menandatangani surat nikah yang telah disiapkan.
Sah Naik Haji
Usia rata-rata pasangan mengikuti nikah massal tidak muda lagi. Mereka telah hidup serumah meski tidak mempunyai surat nikah. Macam-macam alasan mereka mengikuti nikah massal ini.
"Kami senang bisa melakukan nikah secara resmi karena akan mempunyai surat nikah," ujar salah seorang pengantin wanita Enah (57) di Masjid Nur Darajatun, Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (12/5/2010).
Enah dan suaminya Nata (77) yang juga pasangan tertua nikah massal ini mengakui, saat pernikahan mereka pada tahun 1967, ia dan suaminya haya menikah secara Islam.
"Kami kawin secara Islam saja. Dulu tidak ada namanya surat nikah dan kita dikawinin ama orang tua," jelasnya.
Ibu tiga orang anak itu menjelaskan, surat nikah yang didapatkan akan dipergunakan untuk kepentingan yang penting. "Kita seperti pengantin baru saja," katanya sambil tertawa.
Sementara itu, salah seorang pasangan pengantin Muhammad Noor (55), mengaku mengikuti nikah massal agar dapat memperoleh surat nikah yang nantinya akan dipakai untuk mendaftar naik haji.
"Kalau mau pergi naik jadi berdua harus ada keterangan surat nikah. Jadi saya ikut nikah massal ini," terangnya.
Noor mengungkapkan, dirinya menikah dengan istrinya Damayanti (51) pada tahun 1971 dan saat ini telah dikaruniai anak berjumlah delapan orang. "Kita juga malu. Anak kita menikah sudah 5 orang dan semuanya sudah punya surat nikah. Masa kita belum," ujarnya.
Selain itu, anak-anaknya juga mendukung dirinya dan istrinya untuk mengikuti nikah massal. "Kata mereka, kapan lagi mau disahkan kalu tidak sekarang," pungkasnya.
(fiq/nwk)











































