Bocah Korban Priok Berani Mati Demi Wali

Priok Berdarah

Bocah Korban Priok Berani Mati Demi Wali

- detikNews
Senin, 10 Mei 2010 17:32 WIB
Bocah Korban Priok Berani Mati Demi Wali
Jakarta - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan fakta keterlibatan anak dalam tragedi Priok Berdarah beberapa waktu lalu karena adanya doktrin. Bahkan salah satu korban mengatakan berani mati demi wali.

"Mustahil seorang anak bisa melakukan gerakan perlawanan yang sangat mengerikan dengan posisi serempak. Dengan kalimat-kalimat yang seragam," ujar Ketua KPAI Hadi Supeno.

Hal itu disampaikan Hadi dalam jumpa pers di Gedung KPAI, Jl Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (10/5/2010).

Pelibatan anak-anak itu, jangan hanya diartikan secara fisik. Namun, ada doktrin yang diterima anak-anak itu sebelumnya.

"Kamu membela, maka kamu akan masuk surga. Tidak membela, maka akan masuk neraka," imbuh Hadi menjelaskan doktrin yang diterima anak-anak itu.

Seperti Bayu Listianto (14), seorang anak korban tragedi Priok. Bayu menderita luka paling parah, sehingga tidak sadarkan diri selama 18 hari.

Saat dihadirkan di KPAI, Bayu yang baru keluar RS Koja pada Jumat pekan lalu itu, masih terbata-bata bicaranya, dan belum teratur.

"Saya itu lagi begadang. Saya ke situ, jagain situ kalau Satpol PP mau gusur makam itu," jawab Bayu ketika ditanya kronologisnya kenapa bisa berada di lokasi rusuh Priok.

Saat diberi kesempatan bicara lagi, Bayu dengan lantang mengeluarkan kata-kata.

"Saya berani mati demi wali! Makam habib jangan pernah dibongkar, walau pun sedikit, tidak ada gunanya! Saya cinta wali. Itu makam pernah dibakar 2 kali, didirikan di zaman Belanda," tukas Bayu yang kemudian meneriakkan kalimat takbir.

Sementara ayah Bayu, Sulis mengatakan bahwa anaknya itu mengalami perubahan emosi setelah pulang dari RS Koja. Bayu menjadi mudah marah, males mikir. "Sekarang gampang emosi, trauma," jelas Sulis.

Sulis menambahkan, anaknya itu baru menjalani kontrol pertama di RS Koja. Dirinya juga belum berkomunikasi dengan orang tua korban yang lain. Diakuinya, Bayu sering mengaji di kompleks Makam Mbah Priok.

"6 Bulan terakhir ngaji dan marawis, tetangga saya (yang mengajak). Mau ada acara di makam itu, latihan gabungan Maulidan, malam Jumat saja," imbuh Sulis.

Bayu yang menderita luka jahitan di pelipis dan punggung itu hingga kini belum bisa masuk sekolah.

Sebelumnya KPAI memutar video sebagai salah satu sumber fakta untuk rekomendasi. Dari video yang diambil dari berbagai stasiun TV itu, Bayu terlihat paling parah, Bayu hanya mengenakan celana dalam, dengan kepala berdarah diangkat Satpol PP ke dalam ambulans.

(nwk/nik)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads