"Kita menduga ada pihak yang mengeksploitasi anak-anak dalam kerusuhan itu. Dilakukan oleh orang-orang dewasa di sekitar makam," kata Ketua KPAI Hadi Supeno kepada detikcom, Senin (10/5/2010).
Menurut Hadi, hasil investigasi KPAI menemukan indikasi dua pihak yang bersalah menyebabkan anak-anak terluka. Mereka adalah Satpol PP dan bahkan orang-orang dewasa di sekitar makam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, lanjut Hadi, pihaknya enggan menjelaskan siapa orang-orang dewasa yang mengerahkan anak-anak untuk ikut dalam kerusuhan dengan Satpol PP. Tugas polisilah untuk mencari siapakah orang-orang dewasa itu.
"Siapa itu? Tugas polisi menyelidikinya. Kita hanya menemukan yang bersalah, ya Satpol PP dan orang dewasa itu," jelasnya.
Hadi juga menyalahkan Satpol PP yang tidak mundur, ketika tahu ada anak-anak yang ikut dalam kerusuhan itu. Anak-anak seharusnya dilindungi bukan malah dijadikan korban kerusuhan itu.
"Harusnya sudah tahu ada anak-anak, ya mundur saja. Bukan malah melakukan kekerasan terhadap anak," imbuhnya.
Hadi menjelaskan orang-orang dewasa yang mengerahkan anak-anak untuk ikut dalam bentrokan di Koja beberapa waktu lalu menggunakan cara cuci otak. Anak-anak dibuat seolah-olah secara sukarela ikut dalam bentrokan dengan Satpol PP tersebut.
"Yang terjadi itu mereka diberi gambaran indah dan buruk. Kalau membela nanti akan masuk surga dan menolak nanti akan masuk neraka. Kan itu cuci otak namanya," ungkapnya.
Hingga kini pihak KPAI masih rapat untuk memberikan rekomendasi mengenai kasus kerusuhan di Koja. KPAI akan menggelar jumpa pers untuk menjelaskan hasil investigasi KPAI mengenai rusuh di Koja.
(gus/fay)










































