"Saya akan datang untuk menjelaskannya jika dipanggil. Akan saya jelaskan bahwa kami tidak terkait dengan teroris," ujar Ba'asyir kepada wartawan usai menghadiri pertemuan dengan sejumlah ustadz di Pesantren Al-Islam, Solo, Sabtu (8/5/2010).
Seperti diberitakan sebelumnya, sedikitnya tujuh orang ditangkap polisi di kantor JAT Wilayah Jakarta karena diduga terkait tindak terorisme dan pelatihan kemiliteran
di Aceh. Penangkapan itu dikecam Ba'asyir sebagai tindakan penculikan yang tidak berdasar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dua diantara yang dikenalnya adalah Ubaid dan Ziad yang dikenalnya saat sama-sama menghuni LP Cipinang sebagai sesama terpidana kasus terorisme.
Ubaid dan Ziad, menurut Ba'asyir, pernah nyantri di Pesantren Ngruki. Keduanya juga pernah bergabung ke dalam JAT yang didirikan Ba'asyir, namun setelah itu tak pernah muncul lagi dalam kegiatan JAT.
"Bisa jadi mereka tidak muncul lagi ya karena punya kegiatan di Aceh itu. Jadi keduanya terlibat dalam kegiatan di Aceh itu sebagai tanggungjawab personal mereka sendiri, tidak ada hubungannya dengan JAT" papar Ba'asyir.
Ubaid alias Luthfi Haidaroh dan Ziad alias Deny alias Suramto memang merupakan residivis kasus terorisme. Keduanya pernah ditangkap tahun 2002 bersamaan dengan penangkapan Urwah alias Bagus Budi Pranoto dan Air Setiawan. Saat itu mereka
ditangkap dengan tuduhan menyembunyikan Noordin M Top.
(mbr/gus)











































