Seperti dituturkan Antonius Rudi Permana warga Matraman Jakarta Timur. Dalam surat pembaca yang dilayangkan kepada detikcom, Jumat (7/5/2010) ia mengaku tidak bisa mencuci baju dan buang air besar karena ketiadaan air.
"Untuk mandi, saya minta air ke tetangga yang masih menggunakan pompa tangan. Walaupun airnya keruh," paparnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sampai harus pesan air isi ulang 1 tangki 8.000 liter Rp 400.000 untuk ditampung. Saya langsung telepon tukang pompa air tanah. Kapok pakai Aetra! Menelantarkan hidup banyak orang!" keluh Boy.
Pelanggan Palyja, juga tidak kalah pusingnya. Eiric Bachtiar mengeluhkan Palyja yang kerap mematikan air seenaknya. Bahkan Palyja mematikan air tidak sesuai dengan janji mereka.
Warga lain Eiric Bachtiar, warga Krukut yang sudah tidak mendapat suplai air bersih sejak April lalu kecewa dengan pelayanan PAM Palyja
"Jika dilihat di web palyja.co.id pada tanggal 27 April, tertera kalau air akan dimatikan pada pukul 10.00 WIB pagi. Tapi nyatanya, pukul 05.00-07.00 WIB pagi sudah mati," tukasnya.
Yang semakin membuat mereka meradang, tagihan air tetap datang. Padahal hanya pelayanan buruk yang mereka dapatkan.
(dip/fay)











































