Mereka meminta Gubernur Syahrul Yasin Limpo mencabut Peraturan Gubernur Sulsel No 28 Tahun 2010, tentang pungutan retribusi daerah untuk calon tenaga medis yang melakukan magang di rumah sakit milik Pemprov Sulsel.
Sesuai peraturan Gubernur Sulsel yang disahkan pada tanggal 14 April lalu, setiap dokter yang mengambil program spesialis di rumah sakit milik Pemprov Sulsel diharuskan membayar retribusi Rp 75 ribu per minggu dan untuk dokter muda yang mengikuti co-ast diwajibkan membayar Rp 60 ribu perminggu. Sedangkan bagi calon perawat harus membayar Rp 50 ribu per minggu.
Menurut Irwan Kendek, salah satu dokter muda Unhas yang ditemui detikcom di sela aksinya, pungutan gubernur dirasa sangat menyiksa dan tidak masuk akal. Kendek menganggap gubernur salah kaprah jika menganggap semua calon dokter itu dari kalangan orang kaya.
"Gubernur tidak peka atas pendidikan yang susah payah kami jalani di rumah sakit, yang kemudian nanti ilmu kami abdikan untuk rakyat semata, pungutan lebih dari Rp 1,5 juta persemester lebih mahal dari uang SPP kami yang
hanya Rp 750 ribu per semester," ujar Kendek.
Sementara menurut Taufiq, 'jenderal lapangan' mahasiswa Kedokteran Unhas dalam orasinya, menyebut gubernur telah bertindak semena-mena dan tidak memperhatikan perasaan dokter-dokter muda yang siang-malam bertugas di rumah sakit tanpa dibayar upah sepeser pun.
"Gubernur telah menjual rumah sakit untuk kepentingan politiknya, dengan jargon kesehatan gratisnya. Kalau peraturan ini tidak dicabut, jangan
salahkan kami kalau dokter-dokter angkat kaki dari rumah sakit Pemprov itu," pungkas Taufiq.
Sementara itu sang gubernur yang dinantikan tidak kunjung tiba menemui para
demonstran. Ia hanya mengutus salah seorang stafnya untuk berdebat dengan para dokter. Anwar, staf gubernur dari Kesbang Sulsel, mengakui dirinya tidak bisa menandatangani surat pencabutan peraturan gubernur.
"Saya hanya diutus untuk menerima aspirasi para dokter, bukan wewenang saya untuk mencabut peraturan gubernur. Hal itu wewenang gubernur yang sementara ini sedang di luar kantor," ungkap Anwar.
Massa dari Fakultas Kedokteran Unhas sempat terlibat saling dorong di pintu keluar Kantor Gubernur Sulsel dan beberapa di antaranya nyaris adu jotos dengan satpol PP.
Jelang waktu shalat Jumat, para mahasiswa menyudahi aksinya dan berjanji akan kembali dengan massa yang lebih banyak jika peraturan gubernur tersebut belum dicabut.
(mna/lrn)










































