Akibat tertutup abu, jarak pandang menjadi terbatas. Namun aktivitas pendakian belum ditutup, meski larangan ke puncak diberlakukan.
"Rata-rata dalam sehari, terjadi enam letusan. Dominan adalah letusan material," terang Mutaharlin, Petugas Pemantau Gunung Api Rinjani di Sembalun, kaki Gunung Rinjani, Lombok Timur, melalui sambungan telepon, Selasa (4/5/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belum ada peringatan dari otoritas pemerintah daerah setempat. Padahal kata Mutahar, sebaran abu itu sudah masuk kategori membahayakan pernapasan.
"Abu letusan mengarah ke timur dan barat. Tapi dominan ke arah utara. Sudah mencapai pemukiman penduduk di Senaru dan di Sembalun. Jarak pandang terbatas, karena selain abu, kabut tebal biasanya juga turun, terutama pada pagi hari," kata Mutahar.
Ia mengatakan, abu letusan membahayakan pernapasan karena abu letusan itu mirip seperti pecahan kaca dalam ukuran yang kecil. Penduduk di kaki Rinjani diimbau meningkatkan kewaspadaan tinggi, dan bila perlu memakai masker.
Rinjani sudah meletus sejak awal Mei tahun lalu. Sejak itu, status gunung api ini dinyatawan waspada (level II). "Tidak menutup kemungkinan aktivitas gunung api ini akan terus meningkat," kata Mutahar.
Sejak terjadi letusan pada kerucut Gunung Barujari setahun lalu, hingga kini letusan masih terus berlangsung. Karakter umum letusan adalah letusan abu disertai asap dan semburan lava pijar.
Panas yang ditimbulkan letusan, telah menyababkan tanaman pertanian di sekitar gunung tumbuh kerdil. Produktivitas panen tanaman milik warga juga menurun.
(djo/djo)










































