"Pertama, kondisi musiman adalah musim pancaroba dan peralihan arah angin di wilayah Indonesia," ujar Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN Dr Thomas Djamaluddin kepada detikcom, Selasa (4/5/2010).
Thomas mengatakan pada saat matahari berada di belahan selatan (Desember-Februari), musim panas di belahan selatan dan musim dingin di belahan utara menyebabkan angin bertiup dari belahan utara ke selatan. Angin bertiup dari arah Timur Laut dari Pasifik membawa uap air, mengarah ke Selatan-Tenggara menyebabkan musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Angin, lanjut Thomas, cenderung berputar di sekitar wilayah Indonesia. Tidak ada efek pendinginan dari wilayah lain. Ini berdampak bulan Maret-April menjadi bulan terpanas. Mengapa bukan saat kemarau (Juni–Agustus) yang menjadi bulan terpanas? Thomas mengatakan pada saat itu matahari ada di belahan utara. Belahan utara yang panas bertekanan rendah, belahan selatan dingin bertekanan tinggi.
"Maka angin bertiup dari belahan selatan ke utara. Angin bertiup dari arah Tenggara dari Australia yang kering, menuju Utara-Timur Laut menyebabkan musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia," imbuhnya.
Tetapi dari segi suhu udara, menurut Thomas, angin dari belahan selatan yang musim dingin cenderung memberi efek pendinginan. Kadang pada musim kemarau kita merasakan angin yang dingin.
"Walau tidak sepanas Maret-April, nanti saat pancaroba dari kemarau ke penghujan September-Oktober juga menjadi bulan yang panas melebih saat kemarau," jelasnya.
Kedua, lanjut Thomas, kondisi regional juga harus diperhatikan yang kadang memberi efek penguatan. Saat awal April 2010 ada efek gabungan El Nino di Pasifik, Dipole Mode di Lautan Hindia, dan siklus periodik MJO(Madden-Julian Oscillation) aktif yang bersifat menekan pembentukan awan di wilayah Indonesia.
"Akibatnya pada siang hari kita merasakan panas yang sangat terik." ungkap Thomas.
Ketiga, dampak perubahan iklim lokal. Ketika pepohonan banyak ditebang berubah menjadi bangunan dan pelataran berlapis semen atau aspal, maka permukaan bumi menyerap panas lebih efektif. Sebagai fenomena sesaat, kita bisa merasakan perbedaan panas di wilayah yang masih banyak pohonnya dan wilayah yang tanpa atau sedikit pohonnya.
"Pemanasan itu bukan hanya sesaat, ada proses lanjutannya. Panas itu tersimpan. Sebenarnya pancaran gelombang panas itu bermanfaat menghangatkan bumi saat matahari sudah terbenam. Tetapi karena bertambahnya gas karbondioksida (CO2) di udara perkotaan akibat kendaraan bermotor dan industri serta aktivitas manusia lainnya, maka lebih banyak panas yang ditahan," paparnya.
Tidak Ada Fenomena Jarak Bumi-Matahari Makin Dekat
Thomas mengatakan pada bulan April tidak ada fenomena jarak bumi-matahari makin dekat. Kalau pun bumi berada pada jarak terdekat dengan matahari, radiasinya tidak signifikan variasinya.
"Jadi tidak ada dampak apa pun," tutur Thomas.
Mungkin ada yang mengaitkan dengan perasaan lebih panas sekitar Maret-April. Fenomena lebih panasnya suhu udara di sebagian besar kota di Indonesia pada Maret-April, tidak terkait dengan jarak bumi-matahari.
"Data suhu rata-rata di beberapa kota memang menunjukkan dua puncak sekitar Maret-April dan juga September-Oktober. Hal itu terjadi karena faktor peralihan angin pada musim pancaroba," jelas Thomas.
(mpr/fay)











































