"Yang tersulit? Jakarta dan sekitarnya, terutama di pemukiman elitnya," kata Direktur Kependudukan dan Tenaga Kerja BPS, DR Wendy Hartanto, Sabtu (1/5/2010).
Wendy mengakui, minimnya akses tranportasi ke daerah pedalaman dan terpencil ditambah kondisi geografis, pasti merupakan kesulitan. Tetapi bagi petugas sensus penduduk, jauh lebih sulit menemui kepala keluarga elit di Jakarta dibanding warga suku terasing di pedalaman Kalimantan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria paruh baya yang murah senyum ini kemudian menceritakan pengalaman uji coba sensus penduduk di pemukiman elit Kelapa Gading, Jakarta. Para petugas sensus lebih sering menemui rumah kosong dan disambut gonggongan anjing penjaganya.
"Sekalinya ada yang keluar, kalau nggak sopir ya pembantu. Katanya pemilik rumah lagi tidur, di luar negeri dan lain-lain," tuturnya.
Lain lagi kesulitan petugas sensus di apartemen. Pemilik apartemen sering menyewakan apartemen ke orang lain tanpa ada pemberitahuan ke pihak menajemen apartemen dan penghuni baru itu juga tidak melaporkan diri kepada menajemen apartemen.
"Orang elit sering merasa tidak butuh, jadi peduli. Mereka berpikir buat apa sensus, toh mau bikin KTP, SIM atau pasport bisa bayar kok. Padahal kan sensus untuk mereka juga akhirnya," pungkasnya.
(lh/mok)











































