Sebelum menggelar aksi long march, massa terlebih dahulu berkumpul di kawasan persimpangan Jl. Jamin Ginting-Jl. Iskandar Muda Medan. Massa kemudian bergerak melintasi Jl. Monginsidi.
Β
Tepat di bundaran Jl. Juanda-Jl. Monginsidi, massa menggelar aksi duduk di tengah jalan. Akibatnya, arus kendaraan menjadi macet. Petugas satuan lalulintas terpaksa mengalihkan kendaraan ke Jl. Karim MS.
Β
Dalam orasinya, massa mendesak pemerintah menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional. Selain itu, massa juga menentang pemberlakuan buruh kontrak.
Salah seorang peserta aksi, Johan Pahlawan mengatakan, sistem outsourcing yang diterapkan hampir semua perusahaan di Indonesia adalah satu fakta bahwa pemerintah belum berpihak kepada rakyat.
"Peraturan ketenagakerjaan hingga saat ini belum berpihak kepada rakyat," kata Johan.
Buruh Makassar
Peringatan May Day juga digelar kaum pekerja di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Sedikitnya, seribu orang buruh yang tergabung di organisasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) dan beberapa organisasi lainnya seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar dan Komite Perlindungan Rakyat Miskin (KPRM), berkumpul di bawah fly over Urip Sumoharjo, Makassar, Sabtu (1/5/2010).
Dalam aksinya, massa KASBI tidak henti meneriakkan yel-yel 'Ganti Rezim-Ganti Sistem'. Menurut Koordinator aksi KASBI Sulsel, Muchtar, pemerintahan SBY-Boediono adalah antek neo-liberalisme yang telah gagal mensejahterakan rakyatnya. "Rezim SBY-Boediono adalah pemerintahan yang tunduk-patuh pada kepentingan kapitalis, buktinya kebijakan upah murah lewat SKB empat menteri dan kekayaan alam negeri dijual pada pihak asing," pungkas Muchtar.
Sementara Ketua AJI Makassar, Mardiana Rusli, May Day adalah momentum untuk mendorong standarisasi upah layak dan jaminan sosial bagi jurnalis. "Masih banyak industri media yang alergi dengan serikat buruh di perusahaannya, termasuk pula sistem outsourcing dan PHK sepihak pada kontributornya," pungkas Mardiana.
(djo/djo)











































