Dalam beberapa kasus, ibadah haji yang dilakukan seorang baik itu orang awam atau seorang pemimpin juga dimaksudkan sebagai upaya menyempurnakan legitimasi kekuasaannya.
Menurut Guru Besar Antropologi Sosial Universitas Negeri Medan (Unimed) Prof Usman Pelly, status haji pada seseorang tidak hanya sekedar sebagai tanda bahwa dia telah melaksanakan rukun Islam kelima. Lebih dari itu, seseorang yang berhaji dipandang sebagai orang sukses dalam kehidupan duniawi secara menyeluruh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kasus pelaku korupsi yang melakukan haji, masih ada pemahaman yang menyatakan bahwa prilaku korup yang telah dilakukannya dapat dibersihkan dengan naik haji. Karena itu, meski telah melakukan ibadah penyempurna dalam ber-Islam, kadang tidak menghentikan aksi korupsinya.
"Apakah sesudah itu dia akan menghentikan korupsinya, kita tidak tahu. Karena itu tidak aneh, kalau seseorang yang turun dari pesawat haji, kadang-kadang dia tidak hanya disambut sanak keluarganya, tetapi juga dinanti petugas kepolisian," sambung Pelly.
Dalam diskusi ini, hadir juga Rektor IAIN Sumatera Utara (Sumut) Prof Nur Ahmad Fadhil Lubis, Antropolog Universitas Sumatera Utara (USU) DR Fikarwin Zuska dan Baharuddin Aritonang, mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang juga penulis buku 'Orang Batak Naik Haji'.
Pelly memandang antropologi haji merupakan bagian penting antropologi agama. Dalam antropologi agama, yang dikaji bukanlah agama, tetapi pengalaman beragama.
"Cukup beralasan untuk menilai bahwa ibadah haji yang dilakukan masyarakat Indonesia yang sangat pluralitis ini juga memberikan varian tingkah laku dan tindakan sosial budaya yang berbeda-beda dalam arti berhaji, seperti juga pelaksanaan rukun-rukun Islam lainnya," pungkasnya. (rul/yid)











































