Kepala Polda Sumut Irjen Pol Oegroseno dalam keterangannya kepada wartawan, Jumat (30/4/2010) menyatakan, saat ini situasi di kawasan yang bersengketa itu sudah aman dan terkendali. Begitupun pihaknya menempatkan personil untuk pengamanan lanjutan, mencegah terjadinya bentrokan lanjutan.
"Kita amankan, tetaplah. Ada dua kompi. Saya kira dua kompi sudah cukupkan? Ya, untuk pengamanan. Polisi yang cedera hanya satu saja. Sudah aman terkendali sekarang. Penghalang jalan yang dipasang warga sudah dibersihkan semua," kata Kapolda Oegroseno di Mapolda Sumut, Jl Tanjung Morawa, Medan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Polisi yang luka, ya yang waktu dilempar Senin malam itu saja, hanya satu orang," sambung Oegroseno.
Mengenai 40 orang yang diamankan itu, kata Oegroseno, saat ini masih diperiksa. Mereka berasal dari kedua kecamatan. Setelah pemeriksaan baru ditentukan apakah diproses lanjut atau tidak.
"Masih diperiksa sekarang," katanya.
Bentrokan itu terjadi pada Senin (26/4/2010) di kawasan perbatasan Kecamatan Linggapayung dan Kecamatan Natal, yang jaraknya sekitar 600 kilometer lebih dari Medan, ibukota Sumut. Ketika truk polisi yang membawa pasukan anti huru-hara melintas di kawasan tersebut, justru dilempari warga yang menyebabkan seorang polisi dan seorang wartawan terluka. Bentrokan Bentrokan tetap berlanjut hingga Selasa (27/4/2010) dan meluas menjadi perusakan terhadap Mapolsek Natal. Polisi pun
segera dikerahkan dalam jumlah besar.
Keterangan yang diperoleh menyebutkan, pemicu bentrokan merupakan masalah lama tentang hak ulayat atas tanah,terkait kebun plasma yang dikelola PT Perkebunan Sumatra Utara. Kedua belah pihak sama-sama merasa kebun plasma itu berada di atas tanah adat mereka, namun kebun plasma tersebut ternyata hanya diperuntukkan bagi warga Linggabayu sehingga membuat warga Natal kecewa.
(rul/ndr)











































