Nasir Abas: Ada Ratusan Alumni Afghanistan dan Mindanao di Indonesia

Nasir Abas: Ada Ratusan Alumni Afghanistan dan Mindanao di Indonesia

- detikNews
Kamis, 29 Apr 2010 15:15 WIB
Jakarta - Mantan pimpinan Jamaah Islamiyah, Nasir Abas, mengatakan ada ratusan orang di Indonesia yang pernah mendapat pendidikan militer serta ikut bergerilya di Afghanistan dan Mindanao. Menurutnya, tidak seluruhnya dari mereka pantas dicurigai sebagai orang yang memiliki niat untuk melakukan kekerasan di Indonesia saat ini.

"Masih banyak. Ada ratusan alumni Afghanistan dan Philipina Selatan yang berada di negara ini. Tapi tidak serta-merta mereka bisa disebut hendak melakukan serangan. Hanya segelintir saja yang berpikir melakukan pengeboman. Jika yang ratusan itu berpikir seperti itu, makin kacau-balau keadaan ini."

Demikian dikatakan Nasir Abas kepada wartawan sebelum tampil sebagai pembicara dalam diskusi bertema menangkal bahaya terorisme di Ponpes Al Muayyad, Mangkuyudan, Solo, Kamis (29/4/2010). Dikusi yang diadakan Barisan Tolak Terorisme tersebut diikuti ratusan santri di pesantren tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nasir sebelumnya mengatakan secara organisasi, kelompok teror yang sering melakukan kekerasan di Indonesia, saat ini sedang dalam kondisi lemah. Indikasinya adalah dengan gampang mereka ditangkapi dalam jumlah yang cukup besar.

Meskipun demikian bukan berarti pandangan dan ideologi para pelaku tersebut telah mati. Bisa jadi mereka saat ini memilih tiarap karena memang sedang diperlemah, namun akan bangkit lagi pada saat mereka sudah merasa kuat kembali.

"Bisa jadi peralatan tempur mereka saat ini sangat kekurangan. Tapi nanti setelah kuat ya bisa beli lagi. Hal inilah yang patut kita waspadai, termasuk mewaspdai keluarga kita dari bujukan-bujukan yang mereka lakukan untuk bergabung dengan mereka melakukan kekerasan," kata Nasir.

Nasir mengatakan Barisan Tolak Terorisme yang digagasnya bersama beberapa tokoh akan terus melakukan keliling ke berbagai kota untuk memperingatkan tentang bahaya terorisme, terutama kepada anak-anak muda yang selama ini sering dijadikan target perekrutan.

Dia memaparka, dari sekitar 500 orang yang ditangkap polisi terkait terorisme, 80 persen lebih adalah anak usia belasan hingga dibawah 30 tahun. Selain itu, sebagian besar dari mereka juga masih melajang.

"Karena itu kami ingin memperingatkan kepada anak-anak muda tentang bahaya tersebut. Namun kami juga akan mendatangi penjara-penjara untuk menyadarkan para bekas pelaku agar tidak mengulangi lagi perbuatannya yang salah itu," ujarnya.

(djo/djo)


Berita Terkait