Dari 119 artikel yang dimuat di enam surat kabar nasional; Indo Pos, Rakyat Merdeka, Media Indonesia, Republika, Suara Pembaruan dan Kompas, Marzuki Ali diberitakan dalam 38 artikel atau sebesar 31,9 persen. Di bawahnya ada Pramono Anung 37 artikel (31,1 persen), Taufik Kiemas 28 artikel (23,5 persen), Priyo Budi Santoso 7 artikel (5,9 persen), Irman Gusman 4 artikel (3,4 persen), Taufik
Kurniawan 3 artikel (2,5 persen) dan Anis Matta 2 artikel (1,7 persen).
"Yang dimaksud artikel adalah semua jenis tulisan yang ada di surat kabar, mencakup berita, opini, editorial, dan lainnya. Penelitian dan analisis selanjutnya difokuskan pada lima aspek, yakni frekuensi artikel, penempatan artikel, tema artikel, sentimen artikel, dan narasumber artikel," kata Direktur Indobarometer, M Qodari dalam rilisnya yang diterima detikcom di Jakarta, Rabu
(28/4/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan surat kabar yang paling banyak menurunkan artikel Taufik Kiemas adalah Suara Pembaruan, 39,3 persen. Surat kabar yang paling banyak menurunkan artikel Pramono Anung adalah Indo Pos, 27,0 persen.
Memang tidak semua artikel tersebut berisi hal-hal positif. Marzuki Ali misalnya, artikel mengenai dirinya yang cenderung negatif antara lain berisi tentang komentar para pengamat dan fungsionaris
Partai Demokrat yang menilai kans Marzuki Ali maju menjadi kandidat Ketua Umum Partai Demokrat kalah jauh dibanding rival lainnya.
"Sedangkan artikel negatif Taufik Kiemas berisi kritikan terkait kemauannya untuk berkoalisi dengan pemerintah. Ini banyak dilontarkan pengamat seperti Yudi Latif dan beberapa mantan fungsionaris PDIP seperti Permadi, Roy BB Janis. Sementara Pramono Anung berisi sekitar pencopotannya sebagai Sekjen PDIP karena ’diasumsikan’ masuk kubu Taufik Kiemas yang berharap berkoalisi dengan pemerintah," ulas Qodari.
Sementara, pengamat politik UI Boni Hargens menegaskan porsi pemberitaan yang diraih petinggi Negara itu merupakan bentuk interaksi mereka terhadap publik. Sehingga ukuran besar-kecilnya maupun positif-negatifnya akan terlihat.
"Porsi pemberitaan ini penting buat mereka (petinggi negara-politisi, Red) untuk lebih meningkatkan kualitas dan membenahi sisi politiknya masing-masing untuk meraih dukungan lebih besar dari masyarakat," terangnya.
Menanggapi besarnya porsi pemberitaan terhadap Ketua DPR Marzuki Ali, Boni menyatakan, belakangan politisi senior PD itu memang menjadi figur sentral yang memiliki daya tarik sebagai narasumber berita. Menyusul kiprahnya sebagai ketua DPR hingga pencalonan dirinya sebagai kandidat
ketua umum Partai Demokrat.
"Siapapun yang menjadi sumber pemberitaan, pasti memiliki porsi khusus di mata media dan publik. Ia dianggap kompeten, baik secara posisi (jabatan, Red) maupun kapasitas dirinya. Pemberitaan, menjadi ukuran sejauh mana figur tersebut diterima publik," pungkasnya.
(zal/lh)











































