"Tak ada kaitannya. Pariwisata ya pariwisata saja. Jika ada yang beranggapan pariwisata selalu berdampingan dengan wisata seks, itu hanyalah mitos. Jadi tidak harus," kata psikolog Reza Indragiri Amriel saat berbincang dengan detikcom, Rabu (28/4/2010).
Dia menyesalkan film itu bisa mencuat. Apalagi, Bali dikenal sebagai daerah yang memiliki adat istiadat dan norma agama yang tinggi. Bahkan, patung-patungnya di beri sarung sebagai simbol penghormatan terhadap kesucian. "Jangan di campuradukkan. Saya sangat tidak setuju jika pariwisata dihubungkan dengan industri seks," tambah pengajar Universitas Bina Nusantara ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bali sudah cukup indah tanpa harus ada bisnis gigolo," pungkasnya.
(asp/anw)











































