"Saya dicaci maki di depan umum, saya dikatai anjing. Saya merasa terhina sebagai seorang perempuan. Dia juga sempat mengancam akan memukul saya," kata Mischa pada detikcom, Selasa (27/4/2010).
Mischa menceritakan, peristiwa itu terjadi pada Selasa, 27 April 2010, sekitar pukul 14.00 WIB. Saat itu Mischa bersama sopir, ajudan dan kerabatnya yang berjumlah 7 orang menumpang mobil Toyota Alphard Vellfire hitam berplat nomor B 2211 NN melaju dari arah Simprug menuju Pondok Indah Mall 2.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mobil saya lecet di bagian samping kanan. Mobil dia rusak di bagian depan," katanya.
Sopir dan ajudan Mischa kemudian turun dari mobil untuk menyelesaikan tabrakan itu secara baik-baik. Namun, pria yang berkulit bersih dan berkacamata serta berbaju batik warna ungu itu menghardik sopir dan ajudannya.
Karena terlihat ribut, Mischa kemudian turun dari mobilnya. Pria itu, lanjutnya, tampak sedang menunjuk-nunjuk sopir Mischa.
"Saya bilang bapak jangan nunjuk-nunjuk sopir saya. Saya yang punya mobil," katanya menirukan kembali percakapan dengan pria tersebut.
Entah apa sebabnya, pria yang menurut Mischa berlogat Manado itu kemudian balas mencaci dia.
"Dia bilang, kamu nggak tahu siapa saya?" Kata Mischa menirukan pria tersebut.
"Loh saya nggak tahu siapa bapak. Memang bapak siapa?" Balas Mischa.
Namun, tanpa menyebut identitas, pria itu, sambungnya, mengaku sebagai pejabat. Pria itu juga mengakuย mengenal pejabat di Polri.
"Saya ini pejabat. Kapolri, Kapolda sampai Kapolres kenal saya," kata Mischa menirukan pria tersebut.
Tidak puas menghardik Mischa, 'pejabat' itu mengancam akan menabrak mobilnya. Bahkan pria itu juga sempat meminta ganti rugi atas kerusakan mobil yang dideritanya.
"Dia minta ganti rugi juga. Tapi tidak sebut berapa," katanya.
Tanpa berakhir baik, kedua pihak kemudian pergi. Mischa lalu melapor ke Polda Metro dalam laporan resmi bernomor laporan LP/140/IV/2010/PMJ/Ditreskrimum. Pria tersebut dijerat dengan Pasal 335 KUHP tentang pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan. Sebagai kuasa hukumnya, Mischa menunjuk pengacara kondang Otto Cornelis Kaligis.
Setelah melapor, Mischa mengaku tidak takut akan teror yang kemungkinan akan diterimanya akibat pelaporan itu. Dia juga mengaku tidak akan mencabut laporannya jika kemudian hari pria tersebut meminta maaf.
"Saya tidak takut. Rumah saya dijaga tentara, saya pergi dikawal juga. Dan saya tidak akan mencabut laporan saya. Saya sudah dihina dan dipermalukan," tandasnya. (mei/anw)











































