Keributan itu terjadi saat salah seorang muktamirin yang melakukan interupsi terhadap pimpinan sidang, terkait pembacaan hasil penghitungan tahap pertama yang memutuskan ada dua calon yang akan maju pada pemilihan tahap kedua.
Hal ini menyulut interupsi karena sebagian menilai sebelum diputuskan kedua calon, yakni MS Kaban dan Ali Mochtar Ngabalin, harus ditanya dahulu sebelum keputusan dibuat. Sementara yang lain menyatakan diputuskan dulu, baru ditanyakan kepada dua calon yang akan maju.
Nah, di antara saling interupsi tersebut ada muktamirin yang tidak mendapat respons sebagaimana yang diharapkan. Merasa tidak diperhatikan pimpinan sidang, sang muktamirin bermaksud mengambil mikrofon yang ada di samping kanan ruang muktamar.
βSaat itulah ada penghadangan yang dilakukan Brigade Hizbullah, mungkin maksudnya untuk menjaga ketertiban karena sidang akan dilanjutkan,β kata Arif Budi Sulistyo, delegasi asal Cabang Metro, Lampung yang menyaksikan awal kekisruhan tersebut.
Belakangan tindakan penghadangan tersebut, memicu tindakan solidaritas muktamirin lainnya dan mendorong anggota Brigade Hizbullah tersebut. Tidak ada aksi saling pukul, massa kemudian langsung tenang setelah dikumandangkan shalawat nabi. Namun kerumunan massa baru membubarkan diri setelah Ketua Majelis Syuro terpilih Yusril Ihza Mahendra ikut menenangkan massa.
Setelah situasi reda, pimpinan sidang Yasin Ardhy kemudian melanjutkan agenda sidang. Keputusan dibacakan, baru kemudian ditanyakan kepada Kaban dan Ngabalin apakah bersedia maju dalam tahap kedua pemilihan.
Kedua kandidat menyatakan persetujuan. Hingga pukul 03.15 WIB masih dilakukan pemanggilan terhadap delegasi untuk memilih salah satu dari dua calon Ketua Umum PBB tersebut.
(rul/mad)











































