Namun, menurut Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), penyebab utama rusuh itu karena akumulasi tuntutan karyawan sistem kerja kontrak (outsourcing) yang tak kunjung dihiraukan manajemen perusahaan itu.
"Peletupnya memang ada orang asing yang bicara rasis. Tapi ketika dikonfrontir dengan tokoh perburuhan di sana, sebetulnya akumulasi kekesalan merasa tuntutan tidak pernah dihiraukan. Dari 9.000 pekerja sebagian besar outsourcing, padahal mereka buruh inti. Padahal dalam UU Ketenagakerjaan karyawan inti tak boleh outsorcing," kata Ketua BNP2TKI, Jumhur Hidayat di sela-sela diskusi soal Perburuhan di Kantor Mimbar Politik, Jl Cempaka Putih Tengah, Jakarta Pusat, Sabtu (25/4/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkadang, kata dia, kepala dinas di Batam diganti-ganti dengan orang yang tak paham dengan UU Ketenagakerjaan dan hubungan Industrial, sehingga tak ada pengawasan.
"Kalau mu jujur, ini api dalam sekam. Untung ini terjadinya hanya di Batam, jadi terisolir. Kalau terjadi di daerah Industri bisa merembet," tegasnya.
Terkait rencana demo besar-besaran pada Hari Buruh Dunia tanggal 1 Mei (May Day) yang dinilai berpotensi menimbulkan kericuhan, Jumhur tidak terlalu mengkhawatirkannya.
"Tak pernah demo buruh yang rusuh. Serdikal-radikalnya, masih well-organized, jadi tak usah dikhawatirkan," pungkasnya.
(zal/lrn)











































