"Soal itu kalimat itu, hanya perumpamaan saja," kata Kaban dalam konferensi pers yang digelar usai pembukaan Muktamar III PBB yang berlangsung di Convention Hall, Hotel Tiara, Jl. Cut Meutia, Medan, Jumat malam (23/4/2010).
Dalam pidatonya, Kaban menyatakan pemilihan pimpinan partai merupakan salah satu agenda penting dalam Muktamar III. Peserta muktamar atau muktamirin terserah saja dalam menentukan pilihan apakah setengah bajingan atau siapa. Bisa juga memilih dirinya, atau Yusril ihza Mahendra, atau siapa saja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernyataan Kaban soal setengah bajingan itu tak urung membuat sebagian pengunjung muktamar cukupterkejut, dan menduga yang dimaksud adalah salah satu calon. Tak urung Ali Mochtar Ngabalin, yang merupakan pesaing kuat Kaban, merespon pernyataan ini namun dengan nada yang positif.
"Ah, saya kira Pak Kaban tidak bermaksud apa-apa. Mungkin karena situasi partai. Lebih tidak mungkin lagi yang dimaksudkan adalah saya. Saya bukan bajingan. Saya dai," ujar Ngabalin sambil tertawa.
Diakui pria yang kerap tampil bersorban ini, persaingan antara dirinya dengan Kaban dalam merebut posisi ketua umum memang cukup sengit. Tapi siapapun yang menang, kata Ngabalin, tujuan besarnya adalah memajukan partai.
"Kita adalah adik dan abang, Pak Kaban abang. Kalau saya terpilih sebagai ketua umum, itu karena Pak Kaban berhasil mengkader adiknya, ya saya. Kalau Pak Kaban yang menang itu karena keberhasilan Pak Yusril Ihza Mahendra mengkader adiknya, Pak Kaban. Seperti itulah kita di sini. Jangan bayangkan kondisinya seperti perang Israel dan Palestina," pungkas mantan anggota Komisi I DPR ini.
(rul/Rez)










































