Intelektual NU di Kairo: Islam Bukan Kekerasan

Studium General

Intelektual NU di Kairo: Islam Bukan Kekerasan

- detikNews
Jumat, 23 Apr 2010 14:58 WIB
Intelektual NU di Kairo: Islam Bukan Kekerasan
Kairo - Umat Islam di dunia masih dalam citra buruk karena ada tamparan terorisme yang langsung dialamatkan kepada umat Islam. Konsep Islam sesungguhnya sangat bertolak belakang dengan citra itu.

Hal itu disampaikan intelektual muda NU Zuhairi Misrawi dalam Studium General "Peran Masyarakat Muslim Moderat Indonesia dalam Perdamaian dan Toleransi: Pengalaman Nahdlatul Ulama" di Grand Hall Thebes Academy, Maadi, Kairo (22/4/2010).

Acara ini, seperti dituturkan Syamsu Alam Darwis kepada detikcom hari ini, Jumat (23/4/2010), terselenggara berkat fasilitasi Fungsi Politik KBRI Kairo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Zuhairi, Islam sesuai konsep sesungguhnya itu moderat. Ada lima konsep kemoderatan Islam yaitu pertama, Islam adalah pemikiran yang percaya pada kesucian teks agama di samping tidak melupakan realitas kontemporer yang ada.

"Dan dengan teks agama tersebut dapat mengaktualisasikannya ke dalam realitas politik, budaya, pembangunan sosial dan ekonomi," papar Zuhairi Misrawi, yang mendapat sambutan hangat para civitas akademika dan lebih dari 300 mahasiswa Mesir yang tengah studi di kampus tersebut.
 
Kedua, Islam adalah agama damai dan bukan agama kekerasan. Ketika membaca Al-Quran, pada setiap surah selalu diawali Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. "Dari sini dapat dipahami bahwa Islam itu adalah agama rahmat dan jauh dari ekstremisme dan kekerasan," tandas Zuhairi.

Dikatakan bahwa pemahaman ini sejalan dengan ungkapan para ulama yang memerintahkan sesuatu yang baik dengan santun dan kearifan, serta melarang terjadinya keburukan, pendekatan kekerasan dan kejahatan.

Ketiga, Islam adalah gagasan yang menghormati keberadaan non-Muslim sebagai satu kesatuan berbangsa dan mereka juga adalah khalifah dimuka bumi sebagaimana Allah menegaskan bahwa “Aku menciptakan Khalifah di muka bumi.”

Ayat ini menunjukkan bahwa setiap manusia di bumi ini tanpa memandang agama dan budayanya, mereka adalah khalifah Allah di bumi yang berkewajiban memakmurkan bumi dengan kemurahan hati, karena Allah SWT menciptakan manusia dengan fisik yang sempurna.

Oleh karena itu, lanjut Zuhairi, setiap sesama makhluk ciptaan Allah SWT harus saling menghormati, karena keberagamaan dan perbedaan ras, bangsa, suku dan agama telah menjadi sunnatullah yang tidak dapat diingkari. Piagam Madinah  menjadi bukti sejarah yang mempersatukan orang-orang Mukmin dan Muslim Quraisy-Yatsrib dengan komunitas Yahudi dan Nasrani.

Keempat, Islam adalah gagasan yang menyerukan dan mendukung demokrasi dan hak asasi manusia. Islam dalam perspektif sebagian besar Muslim di Indonesia tidak hanya mendukung demokrasi dan HAM, melainkan menjadikannya sebuah alternatif bagi sistem politik.

"Demokrasi dalam Islam memiliki fungsi untuk dijadikan sebagai upaya dialogis dan konsultatif memecahkan persoalan umat dan mendorong ke arah penghormatan terhadap HAM," tegas pria yang juga akrab disapa Gus Mis itu.

Ditambahkan, bahwa beberapa ayat mengisyaratkan untuk mengedepankan musyawarah sebelum memutuskan suatu persoalan. Dalam penghormatan HAM, Allah melarang tirani dan perbudakan, dan oleh karena itu kita semua memiliki tugas untuk mempromosikan kesetaraan sebagai prinsip utama dalam Islam.
 
Kelima, Islam adalah gagasan yang menghormati hak-hak perempuan dalam masyarakat. Perempuan harus memiliki peran besar dalam politik, ekonomi dan sosial budaya. Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia terbukti telah pernah memiliki presiden wanita, dan oleh karena itu perempuan bisa memiliki tempat tinggi dalam politik sejajar dengan laki-laki. Sementara AS, negara demokrasi terbesar di dunia, belum pernah memiliki presiden perempuan.
 
Menurut Zuhairi, konsep-konsep dari lima prinsip kemoderatan Islam tersebut juga harus menjadi titik pemersatu dalam berbangsa dan berinteraksi dengan dunia Islam.

"Kemoderatan Islam di Indonesia dituntut untuk dapat menghadapi tantangan ekstremisme agama, yang senantiasa diharapkan dapat dicarikan jalan keluarnya," demikian Zuhairi.

(es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads