Pemerintah Inggris mengingatkan seluruh warga negaranya untuk tidak melakukan kunjungan, kecuali mendesak, ke Bangkok dikarenakan situasi yang semakin rawan di jalan-jalan.
"Imbauan ini menggambarkan kekhawatiran kami akan keselamatan warga negara Inggris yang merencanakan bepergian ke Bangkok, mengingat risiko bahwa kekerasan bisa muncul tanpa peringatan selama krisis politik yang semakin mudah menguap," demikian pernyataan Kantor Luar Negeri Inggris.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Imbauan senada disampaikan pemerintah Prancis. "Kami mengimbau rekan-rekan senegara kami untuk menerapkan kewaspadaan tinggi dan khususnya tidak pergi ke tempat-tempat di mana terdapat pengumpulan massa," demikian statemen juru bicara Kementerian Luar Negeri Prancis Bernard Valero.
Valero mengkhawatirkan peringatan tegas yang disampaikan juru bicara militer Thai Sunsern Kaewkumnerd bahwa kekerasan bisa digunakan terhadap para demonstran 'Red Shirt' di Bangkok.
"Kami mengulang seruan kami untuk otoritas dan demonstran agar bertindak secara bertanggung jawab.
Kementerian Luar Negeri Austria juga mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warga negaranya. Warga Austria diimbau untuk tidak melakukan kunjungan yang tidak perlu ke Bangkok mengingat tingginya risiko keamanan untuk wilayah Bangkok.
Serangkaian ledakan granat terjadi di Bangkok pada Kamis, 22 April malam waktu setempat. Akibatnya tiga orang tewas dan lebih dari 70 orang lainnya terluka. Otoritas Thai mengklaim granat-granat tersebut dilemparkan dari area yang dikuasai demonstran 'Red Shirt'. Namun pemimpin-pemimpin demonstran membantahnya.
(ita/ita)











































