"Kami meminta demonstran dan otoritas Thai untuk menghindari kekerasan lebih jauh dan hilangnya nyawa serta bekerja untuk menyelesaikan situasi ini secara damai melalui dialog," kata juru bicara PBB Martin Nesirky pada briefing pers di markas besar PBB di New York.
"Ini momen yang membutuhkan pengendalian diri di semua pihak," imbuh Nesirky seperti dikutip kantor berita AFP, Jumat (23/4/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ribuan demonstran 'Red Shirt' mulai melakukan aksi unjuk rasa di Bangkok sejak pertengahan Maret lalu. Para pendukung mantan perdana menteri Thaksin Shinawatra itu menuntut pembubaran parlemen dan digelarnya pemilihan umum baru.
Pada Kamis, 22 April malam waktu setempat, serentetan serangan granat terjadi di distrik bisnis di Bangkok hingga menewaskan tiga orang. Lebih dari 70 orang lainnya luka-luka dalam peristiwa itu.
Sebelumnya pada 10 April lalu, terjadi bentrok antara pasukan keamanan Thai dan para demonstran yang menewaskan 25 orang. Lebih dari 800 orang lainnya terluka dalam peristiwa berdarah itu.
(ita/ita)











































