Aka adalah taruna semester ketiga angkatan 62 Bravo Sekolah Tinggi Pilot Indonesia (STPI). Dia kini terbaring koma di RS Siloam, Karawaci, akibat tabrakan maut pada Senin 19 April itu. Aka mengalami luka parah di wajah, mata dan kepala.
Di RS yang sama, terbaring instrukstur terbang Aka, Teeza Ariaputra. Kaki kanannya diamputasi. Siswa dan guru ini belum sadarkan diri sejak kecelakaan terjadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Paskah (latihan terbang) pre-solo, jadi terbang bersama instruktur," kata Kepala STPI Darwis Amini kepada detikcom, Kamis (22/4/2010).
Darwis menegaskan meski keduanya mengalami trauma yang cukup parah, pihak STPI masih akan menerima mereka untuk berkarier. Teeza yang kesehariannya menjadi instruktur terbang, bila sudah sembuh bisa mengajar teori penerbangan kepada para taruna.
Â
"Paskah bisa ambil program studi lain seperti lalu lintas udara dan lainnya," ujarnya. Darwis berharap keduanya segera pulih dan kembali beraktivitas.
STPI terus memantau kondisi Paskah dan Teeza. STPI juga memberikan asuransi bagi seluruh taruna dan instrukturnya.
"Semuanya ditanggung. Kita juga ada dokter sendiri yang selalu gantian menjaga mereka," jelas Darwis.
Darwis menuturkan, agar peristiwa yang menimpa Aka-Teeza tidak terulang lagi, pihaknya berkoordinasi setiap hari dengan kepala Bandara Budiarto. Koordinasi terkait perbaikan pagar kawat pembatas bandara yang sering dipotong warga sekitar.
Aka dan Teeza mengalami kecelakaan saat hendak landing di Bandara Budiarto pada Senin 19 April pagi.
Saat itu, Yopie Hermawan dan Azzumar, melintasi runway bandara dengan motor. Sayap pesawat menyabet keduanya, lalu pesawat oleng dan jatuh. Yopie dan Azzumar meninggal dunia, sedangkan Aka dan Teeza tak sadarkan hingga kini. (gus/nrl)











































