"Ingat mereka gajinya sedikit. Mereka urus anak istri setengah mati. Malah diperlakukan seperti itu. Saya tidak rela," kata Sutiyoso usai diskusi di Hotel Nikko, Jl MH Thamrin, Jakarta, Kamis (22/4/2010).
Sutiyoso menegaskan kalau yang dilakukan Satpol PP di Koja, Jakarta Utara adalah penertiban bukan penggusuran. Penertiban itu juga sesuai dengan prosedur. Sebelum penertiban sudah dikirimkan surat peringatan, sehingga Satpol PP tentu harus melakukan tugasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Sutiyoso, Satpol PP sebelum menjalankan tugasnya harus di-briefing. Saat situasi lancar, Satpol PP terus bergerak. Jika membahayakan, maka disarankan harus berhenti bahkan harus mundur.
"Masyarakat jangan membayangkan penertiban berjalan mulus. Dimanapun pasti menimbulkan reaksi," ungkapnya.
Selama ini, lanjut Sutiyoso, media massa, pakar hukum, atau siapapun selalu membela rakyat karena memang populis, dan bukan membela aparat. Dalam kasus di Koja, Jakarta Utara, justru yang meninggal adalah petugas Satpol PP. Tapi masyarakat ingin Satpol PP dibubarkan.
"Siapa yang mati? Satpol PP. Mobil siapa yang dibakar? Satpol PP. Tapi kok mau dibubarkan Satpol PP. Ya aneh saja," imbuhnya.
Sutiyoso menjelaskan Satpol PP memang mungkin saja melakukan kekeliruan. Jika memang keliru maka Satpol PP harus ditindak. Begitu juga dengan masyarakat yang telah membunuh, juga harus ditindak.
"Kalau tidak, akan terjadi lagi pembunuhan terhadap petugas. Sekarang Satpol PP, besok-besok polisi yang jadi korban," jelasnya.
Sutiyoso meminta masalah ini tidak diselesaikan secara emosional dengan membubarkan Satpol PP. Namun, Satpol PP harus ditata lagi dalam hal tugas pokok dan fungsinya.
"Kita sering tumpang tindih dengan aparat penegak hukum lain seperti polisi. Penertiban busway itu tugas polantas. Padahal Satpol PP ada juga tugas itu. Nanti yang ditegur Satpol PP juga," tandasnya.
Menurut Sutiyoso, Satpol PP seperti robot. Mereka hanya melaksanakan tugasnya. Komandannya yang harus bertanggung jawab.
"Disuruh maju dia maju. Jangan dijadikan korban, dipecat. Kita evaluasi dengan hasil yang jernih," tegasnya.
(gus/fay)











































