Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua PN Tulungagung, Teguh Harianto, saat berbincang dengan detikcom, Kamis (22/4/2010).
Teguh menceritakan, selama berkarir sebagai hakim, sering kali ia diiming-iming sesuatu oleh pihak berperkara. Bentuknya berbeda-beda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Adalah, masa saya harus vulgar kasih tahu bentuknya," elak Teguh merahasiakan.
Biasanya penawaran itu tidak langsung ke Teguh. "Bisa lewat si A atau si B, bukan langsung ke saya," ujarnya lagi tanpa mau merinci.
Namun itu semua ditolaknya mentah-mentah. Teguh pun tidak pernah basa-basi menolaknya.
"Semua sudah tahu tipe saya, makanya yang di belakang langsung nggak berani semua," ujarnya.
Kebiasaan itu sempat hilang saat Teguh dipercayakan jadi hakim di Pengadilan Tipikor. "Nggak ada yang berani tuh," kata Teguh yang masih sering naik kereta api untuk bolak-balik rumahnya di Bogor menuju Jakarta.
Teguh yang pernah memberikan vonis kepada jaksa Urip Tri Gunawan selama 20 tahun, hukuman tertinggi dalam sejarah pengadilan Tipikor, mengaku tidak terlalu perduli dengan materi. Meski penghasilan yang didapat tidak terlalu banyak, ia bangga dengan pekerjaannya sebagai hakim.
"Kalau mau kaya jangan jadi hakim Mas, jadilah pengusaha. Jadi hakim kok gayanya kaya selebritis," kelakarnya. (mok/ndr)











































