"Masih koma. Tapi jantung dan yang lainnya masih berjalan. Masih dalam kondisi kritis," kata Wakil Direktur RS Siloam Hospital Karawaci, Tangerang, dr Mangantar Marpaung, kepada detikcom, Kamis (22/4/2010).
Mangantar mengatakan, kedua pasien tersebut masih terus dalam perawatan khusus di ruang ICU. Semua alat-alat bantu pernafasan masih dipasang kepada kedua pasien. Tim dokter juga masih terus mengecek dan mengobservasi.
"Mereka memakai ventilator. Traumanya cukup serius. Masih dalam pertolongan alat-alat intensif kita," jelasnya.
Menurut Mangantar, sudah ada tim dokter yang khusus menangani kedua pasien ini. Tim terdiri dari dokter bedah saraf, jantung, bedah tulang, dokter ICU, dokter mata, dan lainnya. Kondisi kedua pasien juga sama parahnya karena itu tim dokter masih terus memantau kondisi mereka.
"Tidak ada yang paling parah. Sama saja. Kita harapkan secepatnya otaknya merespons, tergantung traumanya. Kita tidak bisa memperkirakan kehidupan orang. Semua ada di tangan Yang di Atas," ujarnya.
Supaska adalah siswa Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI). Sedangkan Teeza (23) adalah instrukturnya. Keduanya mengalami kecelakaan saat hendak landing di Bandara Budiarto, Curug, Tangerang, pada Senin 19 April pagi.
Saat itu, Yopie Hermawan dan Azzumar, melintasi runway dengan motor. Sayap pesawat menyabet keduanya, lalu oleng dan jatuh. Yopie dan Azzumar meninggal dunia, sedangkan Supaska dan Teeza tak sadarkan hingga kini. Sementara, kaki kanan Teeza telah diamputasi.
(gus/nrl)











































