Demikian disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam rapat kerja dengan menteri dan gubernur se-Indonesia, di Istana Tampak Siring, Gianyar, Bali, Senin (19/10/2010).
Dikatakan SBY, dalam mengatasi masalah sosial perlu menyelami anatomi keadaan masyarakat. Saat ini ratusan ribu masyarakat Indonesia mengalami masalah sosial. Banyak kelompok masyarakat yang mengalami kemiskinan
"Jangalah hanya melihat dari segi jumlah, income per kapitanya atau dari segi pengganguran dan kemiskinan berkurang. Mulai dari saya mengalir ke gubernur, hingga abdi negara, harus menangani masalah ini dengan penuh tanggungjawab, tulus dan sebaik-baiknya," kata SBY.
Menurut SBY, ada 3 langkah yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah kesehatan dan kesejahteraan rakyat. Pertama, sekian banyak permasalahan sosial yang terjadi di masyarat karena ada kondisi dan pra kondisi, yaitu kemiskinan yang absolut dan keterbekalangan di beberapa kantong masyarakat.
"Yang harus kita garap adalah sisi hulu. Menggarap kondisi yang nyata dari masyarakat agar tidak memunculkan persoalan seperti
itu lagi," kata SBY.
Kedua, melakukan langkah pencegahan. Pendidikan harus menjamah hingga ke penduduk, yaitu rumah tangga bukan hanya gedung sekolah. Berikan pendidikan agar dapat mengubah gaya hidup.
"Ketiga, melakukan evaluasi terhadap program-program pro rakyat. Diperlukan alokasi dan distribusi anggaran yang tepat sasaran, tujuan dan masalahnya," ujar SBY.
SBY juga menyebutkan kondisi riil kesehatan masyarakat Indonesia yang harus segera diatasi. SBY menaruh perhatian serius terhadap meningkatnya jumlah anak penderita autis.
"Terjadi fenomena baru, yaitu autis pada anak. Saya menyimak di TV internasional, yang konon jumlah anak kita yang alami autis sebanyak 67 juta. Ini tidak bisa kita abaikan. Tidak cukup statistik, tanpa kita melihat memotret tentang anatomi dan keadaaan masyarakat kita. Oleh karena itu, jangan kita abaikan. Marilah menangangi secara benar dan bertanggungjawab agar pembangunan ini penuh berkeadilan," kata SBY.
Persoalan Mendesak
Secara terpisah Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Andi Arief, mengatakan meski angka kemiskinan dan pengangguran turun, Indonesia masih dihadapkan pada beberapa persoalan mendesak. Persoalan-persoalan tersebut antara lain, sebaran penduduk miskin tidak merata dan jumlah penduduk yang rentan jatuh miskin juga masih cukup besar.
"Penduduk berpendidikan SMP ke bawah (3,72 %), penduduk yang bekerja di sektor informal (4,62%), penduduk berstatus setengah penganggur (5.28%)," ungkap Andi.
(gds/djo)











































