Demikian disampaikan pengamat politik Charta Politika Indonesia, Arya Fernandes, saat berbincang dengan detikcom, Selasa (13/4/2010) malam.
"Hal itu (kampanye modern) terlihat dari penggunaan survei opini publik untuk merekam aspirasi pemilih (elit) melalui survei Cirus Surveyor Group (CSG) dan LP3ES. Para kandidat juga sudah menggunakan jasa konsultan politik untuk menggarap pencitraan politik, strategi komunikasi politik, dan public relations serta pembuatan iklan politik," kata Arya.
Meskipun kandidat sudah mengadopsi pola-pola modern dalam kampanye, kata Arya, namun pertarungan pada level kebijakan sebenarnya belum terjadi antar masing-masing kandidat. Kandidat masih terjebak pada serangkaian cara untuk merebut hati SBY.
"Sebenarnya kita berharap setiap kandidat sudah muncul dengan pertarungan gagasan dan ide-ide segar tentang masa depan Demokrat. Tapi yang kita saksikan justru parade kesantunan semu yang ditampilkan oleh kandidat. Tidak ada perbedatan program atau kebijakan antarkandidat, seolah-olah kalau terjadi perdebatan hilanglah kesantunan," kata dia.
(mpr/lrn)











































