"Prinsipnya, di PAN nggak ada kubu-kubuan. Seluruh permasalahan itu bisa diselesaikan. Kita masih membuka ruang dialog, asal jangan terus merusak citra partai. Kita sangat memahami dan menghargai aspirasi teman-teman itu dalam konteks hak berdemokrasi," kata Taufik kepada detikcom, Selasa (13/4/2010).
Taufik menyampaikan hal itu untuk menanggapi adanya kericuhan pada acara penyampaian maklumat dan diskusi peluncuran buku yang bertema Maklumat PAN Legal bertajuk 'Kembali ke Jalan yang Benar' di Financial Club Graha Niaga lantai 27.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"PAN kan tidak hanya milik puluhan orang, tapi sekitar 6 juta orang, kalau dihitung dari perolehan kursi kita di DPR. Saya bisa pahami kalau ada konstituen yang lain tidak ikhlas citra PAN kurang bagus di masyarakat jika diberitakan ada perpecahan," paparnya.
"Ingat, yang minta untuk menghentikan itu dari manajemen loh, bukan dari kader. Saya, ketua umum tidak tahu menahu soal kejadian itu. Tidak ada yang menyuruh dan menginstruksikan, ini murni keinginan kader menjaga citra partai," paparnya.
Taufik berharap perselisihan dan perbedaan pandangan antar kader PAN masih bisa diselesaikan dengan musyawarah. DPP PAN dibawah komando Hatta Rajasa masih bersedia melakukan dialog asal tidak kebablasan.
"Ketua umum sangat akomodatif kok, segala perbedaan kita tampung sepanjang jangan kebablasan sampai merusak citra partai. Mari kita saling menghargai. Kita tidak mengharapkan kasus ini tidak berkepanjangan," pintanya.
Sebelumnya diberitakan, kubu yang menamakan dirinya sebagai PAN Legal dengan pimpinan M. Junaedi, Senin (12/4/2010), mengelar acara 'Maklumat PAN Legal'. Penyampaian maklumat yang rencananya akan dirangkai dengan acara diskusi dan peluncuran buku itu berakhir ricuh.
Kericuhan ini terjadi ketika beberapa simpatisan yang mengaku dari DPP PAN hasil Kongres III Batam meminta acara Junaidi ini dihentikan. Kericuhan berawal saat massa berteriak-teriak di luar ruang Financial Club Graha Niaga lantai 27, tempat digelarnya acara.
Merasa tuntutannya tidak didengar, mereka memaksa masuk ke ruangan. Saat itu, Junaedi yangย sedang membacakan Maklumat PAN Legal bertajuk 'Kembali ke Jalan yang Benar' diminta untuk menghentikan acaranya. Lebih khusus, saat Junaedi menyingkap tirai penutup backdrop yang menandai peluncuran resmi buku berjudul Ketua MPP dan DPP PAN Ilegal.
Dalam kejadian itu, memang tidak terjadi baku hantam. Namun para simpatisan ini merebut pengeras suara dan menyerukan agar undangan yang hadir dalam acara itu membubarkan diri. Backdrop peluncuran buku dirusak, demikian juga spanduk kegiatan.
(yid/gah)











































