Aksi ini dilakukan menyusul bentrok berdarah antara tentara dan demonstran pada Sabtu, 10 April lalu. Sedikitnya 21 orang tewas dan 800 orang lainnya luka-luka dalam peristiwa itu.
"Kami ingin masyarakat di Bangkok mengetahui apa yang terjadi pada Red Shirts karena pemerintah dan militer mengontrol pemberitaan," cetus Chakkricth Kadeeluck, salah seorang demonstran seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (12/4/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para demonstran pendukung mantan Perdana Menteri (PM) Thaksin Shinawatra bertekad akan terus melakukan aksi unjuk rasa sampai PM Abhisit Vejjajiva mundur. Para demonstran bahkan menginginkan Abhisit meninggalkan tanah air.
Massa 'Red Shirt' menolak bernegosiasi dengan pemerintah. Mereka mencetuskan tak ada gunanya melakukan pembicaraan dengan 'para pembunuh'.
Dari 21 korban jiwa dalam bentrok berdarah tersebut, sebanyak 17 orang merupakan warga sipil dan 4 tentara Thailand. (ita/fay)











































