"Semua lini atau pos-pos di negeri ini tidak lepas dari praktek-praktek kotor mafia," kata Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, La Ode Ida, dalam acara pre launching buku karyanya berjudul 'Negara Mafia' di kantor Galang Press di Jl Mawar Tengah, Baciro, Yogyakarta, Kamis (8/4/2010).
Menurut dia, mafia-mafia itu bergerak atau bermain di semua lini dalam menjalankan praktek-praktek kotornya. Mereka bisa mengatur posisi atau penempatan jabatan tertentu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semua bermain dan ambil peran, bahkan di Senayan pun juga ada," ungkap dia.
Menurut La Ode, praktek kotor ala mafia itu seakan sulit untuk diberantas, namun harus ada keberanian semua pihak untuk melakukannya. Oleh karena itu dia memandang perlu adanya perbaikan yakni dengan memperbanyak orang dalam atau orang berada dalam lingkaran itu untuk menjadi saksi.
"Saat ini memang belum muncul, tapi bila hal seperti ini bisa muncul kita bisa lebih baik," katanya.
Sementara itu Direktur Pusat Kajian Anti (Pukat) Korupsi Universitas Gadjah Mada, Zainal Arifin Muchtar menambahkan ritus pemberantasan korupsi seperti yang dilakukan saat ini sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Model renumerasi sudah bukan menjadi obat mujarab.
"Harus ada hal yang baru. Model renumerasi hanya akan seperti obat sakit kepala," katanya.
Demikian pula dengan model quick win atau tangkap cepat juga harus ditinggalkan. "Tangkap cepat tapi yang lain kemudian dibiarkan tidak akan efektif," pungkas.
(bgs/djo)











































