Kirman yang selalu mengenakan kaos bergambar Mega dan PDIP ini tampak senantiasa tersenyum dan siap jika ditanya soal aksi uniknya ini. Bahkan beberapa satgas pengamanan PDIP terlihat senang ‘menanggapi’ Kirman yang selalu kebal-kebul dengan rokoknya itu.
“Ini semua demi Mbak Mega mas," kata Kirman dengan semangat saat ditemui wartawan di depan pintu masuk hotel Inna Grand bali Beach, Rabu (7/4/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Saya datang pas acara di Solo (Rakernas), Di Bali (Kongres II tahun 2005 lalu), dan acara di Jakarta. Pokoknya kalau ada acara PDIP saya selalu datang mas,” terangnya sambil menunjukkan bukti-bukti foto dalam setiap momen yang dia datangi.
Lelaki dengan satu istri dan dua anak itu selalu mendapat restu dari keluarganya untuk mengayuh becak guna menghadiri acara PDIP. Khusus untuk Kongres III ini, Kirman mengaku membutuhkan 5 hari untuk tiba di Denpasar.
“Saya berangkat rabu pagi pukul 08.00 WIB dari Surabaya, lalu sampai di sini (Denpasar) hari minggu pukul 11.00 WIB. 5 hari kan itu,” paparnya.
Pria yang selalu tak memakai alas kaki ini mengaku mendapat banyak bantuan dari para kader dan simpatisan PDIP yang bersimpati dengan aksinya. "Saya tidak punya modal mas, saya dianggap hanya modal MT. Tahu MT?” tanyanya.
“MT itu adalah minta-minta. Itu tidak benar, saya hanya disumbang, bukan minta-minta. Karena itu ada juga yang tidak suka dengan cara saya ini, saya dianggap mengemis, untung banyak. Tapi biarlah. Emang saya pikirin,” tegas lelaki yang sering dikatakan edan oleh teman-temannya ini.
Bantuan itu bisa berupa apa saja, entah uang, makanan, maupun rokok. "Ada juga yang ngasih tumpangan,” terang pria yang tinggal di Menur Surabaya ini.
Saat ditanya soal bagaimana perjalanannya ke Bali kali ini, Kirman mengaku secara umum berjalan lancar. Hanya saja, becaknya sempat terguling ketika melewati Pasuruan ke Situbondo. Beruntung.
“Tapi saya tidak apa-apa. Hanya hiasan becak saya yang rusak,” terangnya sambil menunjuk hiasan becak, sebuah tanduk kepala banteng.
Kirman juga memendam harapan terhadap Megawati. Kirman ingin bertemu Megawati agar anaknya dapat dibantu untuk bersekolah kembali.
"Saya ingin anak saya mendapat kepastian biaya pendidikan, karena sekarang dia putus sekolah dan mondok karena saya tidak punya uang untuk membayar. Saya sudah minta ke anggota DPRD surabaya, tapi ditolak,” harapnya.
(yid/amd)











































