"Ini menjadi tantangan tersendiri bagi Demokrat dan SBY. Jika SBY mau menunjukan dirinya sebagai seorang demokrat sejati, sudah semestinya ia berdiri di atas semua calon tanpa berpihak dan memberi restu kepada salah satu calon," kata pengamat politik LIPI, Ikrar Nusa Bakti, yang dihubungi wartawan, Selasa (6/4/2010).
Ikrar menyarankan, biarkan para kandidat ketua umum yang masih muda-muda menunjukkan kepiawaian berpolitiknya. Dengan begitu, akan terlihat jelas apakah Demokrat benar-benar partai modern yang memiliki kader-kader berkualitas yang kelak akan menjadi pemimpin masa depan negeri ini atau tidak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait rivalitas antarcalon ketua umum, menurut Ikrar, bentuk restu yang coba ditunjukkan oleh salah satu calon ketum PD dengan adanya dukungan dari Eddie Baskoro Yudhoyono (Ibas), putra SBY, ternyata tidak mempengaruhi sikap kader Demokrat di bawah.
"Terbukti ketika Andi Malarangeng ke Jogjakarta , kader di sana berani secara tegas menyatakan, kita lihat nanti saja di kongres," ungkapnya.
Sementara, Burhanudin dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) menyatakan, sejauh ini apa yang dilakukan para kandidat ketum PD bisa dibedakan menjadi dua model perang kampanye. Yakni, antara Perang Udara dengan perang darat.
"Perang udara adalah berkampanye melalui iklan-iklan yang terkesan bombastis. Tapi belum tentu tepat sasaran karena yang akan memilih calon ketua umum Demokrat bukan pemirsa TV, tapi peserta kongres," ujarnya.
Sedangkan yang kedua adalah perang darat. Yakni kampanye dengan bertemu langsung pengurus-pengurus di tingkat DPC hingga DPD. "Dan ini lebih efektif karena komunikasi politik yang terbangun akan langsung sampai ke kader partai yang akan menjadi peserta kongres. Karena itu, jangan asal main klaim kedekatan," ulas Burhanudin.
Terkait 'restu' yang akan diberikan kepada salah satu calon kandidat, menurut Burhanudin hal itu akan membuat peta politik di kongres berubah. Dan citra Partai Demokrat sebagai partai yang menjunjung nilai-nilai demokrasi otomatis akan ambruk di mata masyarakat.
"Taruhannya besar jika benar-benar SBY menunjukkan adanya calon yang di-anak emas-kan. Suasana kongres bisa berubah drastis dan mengalami antiklimaks. Cita-cita Demokrat menjadi partai demokratis, seketika akan lenyap," tegas Burhanudin.
(zal/irw)











































