"Mbak Mega dijerumuskan seperti Soeharto. Mbak Mega diojok-ojok (didorong) jadi calon tunggal seperti zaman Soeharto," kata Guruh dalam jumpa pers di Hotel Segara Village, Sanur, Denpasar, Bali, Selasa (6/4/2010).
Guruh menjelaskan, pada tahun 1997 Soeharto kembali didorong menjadi calon tunggal Presiden RI. Padahal saat itu, Soeharto menyatakan dirinya sudah lelah dan ingin beristirahat.
"Beliau (Soeharto) malah sampai meminta Pak Harmoko mengecek apa benar daerah-daerah menginginkannya kembali. Pak Harto sudah capek, tapi diojok-ojokin terus. Saya rasa kondisi Mbak Mega kok ya mirip banget seperti zaman Soeharto," ungkap Guruh.
Menurut Guruh, orang-orang di sekitar Megawati selalu mendorong dan memberi masukan bahwa daerah menginginkan kembali kakaknya menjadi Ketua Umum PDIP. Padahal, sambung Guruh, berdasarkan penelusurannya hal tersebut tidak sepenuhnya benar.
"Setahu saya, daerah-daerah juga sudah banyak yang sudah legowo (Megawati lengser). Misalnya pimpinan diserahkan kepada generasi selanjutnya.Β Dalam pengertian saya bisa mengukur banyak daerah yang memilih saya. Mereka bilang Mas Guruh saja yang meneruskan agar Mbak Mega bisa beristirahat," ungkap Guruh.
(gds/djo)











































