"Bagaimana suatu partai dalam waktu cepat perolehannya bisa naik menjadi 300 persen? Saya ingin belajar. PDIP ingin menjadi seperti itu, saudara-saudara," kata Mega yang disambut tepuk tangan peserta kongres.
Mega menyampaikan hal itu dalam pidato politiknya saat membuka Kongres III PDIP di Inna Grand Bali Beach, Sanur Bali, Selasa (6/4/2010).
Pernyataan Mega ini dijadikan pembuka dalam ajakannya kepada kader PDIP untuk membenahi sistem kaderisasi dan loyalitas kader agar dalam pemilu 2014 bisa mencapai kemenangan.
"Sebab, saat ini kita sedang dihadapkan pada ketidakdisiplinan kader, dan lemahnya penataan birokrasi partai serta melunturnya loyalitas," imbuhnya.
Mega pun mengulas sikap fairness-nya saat menyelenggarakan pemilu 2004 yang tidak manipulatif sebagaimana penyelenggaraan pemilu 2009. Mega mengaku telah mencoba dengan susah payah membangun sistem demokrasi agar Presiden dan Wakil Presiden dapat dipilih secara langsung oleh rakyat.
"Pada saat itu, tidak terpikirkan sedikit pun oleh saya untuk menciderai jalannya demokrasi. Karena saya berkeyakinan, rakyat berhak untuk mendapatkan kembali kedaulatannya sebagai penentu kehidupan politik, setelah sekian lama dibungkam. Meski saat itu saya dikalahkan," paparnya.
Mega menilai Pemilu 2009 lalu telah kehilangan watak aktivisme dan voluntarismenya. Menurut dia, yang terjadi justru politik sebagai melodrama, berpola seperti sinetron yang sarat dengan belas-kasihan dan kepura-puraan.
"Politik juga kehilangan keutamaan dan moralitas karena hampir sepenuhnya dipersembahkan untuk kekuasaan," paparnya.
Dalam kesempatan ini, Mega juga mengkritik peran parpol yang lebih banyak menjadi 'penjual tiket' kekuasaan. "Cara ini yang akhirnya menjadikan pola hubungan politik antara rakyat dengan partai, rakyat dengan elit menjadi pola hubungan transaksional dan hubungan untung-rugi. Pola hubungan yang mendewakan materi," pungkasnya.
(yid/mad)











































