Menyelamatkan Pamor Partai Ideologis

Kongres III PDIP

Menyelamatkan Pamor Partai Ideologis

- detikNews
Senin, 05 Apr 2010 04:25 WIB
Menyelamatkan Pamor Partai Ideologis
Jakarta - Merahnya jalan-jalan saat kampanye Pemilu 1999 adalah bukti Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan (PDIP) memang berjaya pascareformasi Mei 1998. Kini, setelah lebih dari satu dasawarsa berlalu, warna merah itu memang tidak meredup. Dukungan masyarakat terhadap parpol itulah yang kian meredup.

Tahun 1998 memang membawa angin segar bagi Partai Demokrasi Indonesia (PDI)
di bawah kepemimpinan Megawati Soekarnoputri. Gerakan anti-Seoharto saat itu
turut mengibarkan PDI yang tertindas selama 32 tahun di bawah cengkraman Soeharto.

Lima bulan setelah reformasi pecah, lewat Kongres V PDI di Bali Oktober 1998, Megawati terpilih kembali menjadi ketua umum secara aklamasi untuk periode 1998-2003.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Megawati pun bergegas menghadapi Pemilu 1999 yang akan digelar beberapa bulan lagi. Putri proklamator Bung Karno itu segera mengganti nama partai menjadi PDIP pada Februari 1999. Untuk membedakan lambang banteng PDI kubu Soerjadi, Megawati juga merubah lambang partai menjadi Banteng Moncong Putih.

Di pemilu pertama sejak era reformasi itu, PDIP mendapat dukungan masyarakat secara signifikan. Meski tidak bisa memajukan Megawati menjadi presiden, saat itu PDIP menang besar dengan 33,7 persen suara.

Menyusul di bawah PDIP, Partai Golkar (22,4 persen), Partai Kebangkitan Bangsa (12,6 persen), Partai Persatuan Pembangunan (7,1 persen). Pada pemilu itu PDIP berhasil mendudukkan 153 kadernya di parlemen.

Namun pada Pemilu 2004, suara PDIP menurun menjadi 18,5 persen dari suara. Posisinya pun bergeser menjadi nomor dua, di bawah Partai Golkar (21,6 persen). Dalam Pemilu Presiden 2004, Megawati yang berpasangan dengan Hasyim Muzadi juga kalah dari pasangan SBY-JK.

Pada pemilu tahun lalu, dukungan masyarakat terhadap PDIP terus menurun. Suara PDIP tahun lalu bersisa 14 persen. PDIP cuma berhasil mendudukan 94 kadernya di parlemen. Megawati yang berpasangan dengan Prabowo Subianto pun kalah untuk kedua kalinya dalam Pilpres.

Pengamat politik dari Indobarometer, M Qodari menilai merosotnya suara PDIP dari pemilu ke pemilu salah satunya disebabkan oleh menurunnya popularitas Megawati sebagai ketua umum. Popularitas dan ketokohan Megawati di mata pemilih tidak sebesar dulu lagi saat kemunculannya di awal reformasi.

"Daya tarik pertama buat pemilih itu ketua partai," kata Qodari saat berbincang dengan detikcom, Minggu (4/4/2010).

Namun demikian, Qodari menilai peran Megawati untuk menjaga soliditas internal partai tidak bisa diragukan. Belum lagi konsistensinya dalam menjaga arah partai agar sesuai dengan ideologi dan cita-cita partai.

"Megawati tokoh yang kokoh dan konsisten memperjuangankan ideologi partai," kata Qodari.

Qodari menilai, menjadi partai ideologis, tidak selalu harus bertentangan dengan tujuan pragmatis partai yakni mengumpulkan suara dalam pemilu. Ideologi yangย  iimplementasikan lewat sikap politik yang tegas dan program yang nyata, justru akan memberikan warna lain kepada pemilih.

"Justru ideologi yang membuat partai itu eksis," kata dia.

Selasa besok, PDIP akan menggelar Kongres III di Bali. Di kongres itu, PDIP diperhadapkan oleh dua pilihan sikap politik, tetap menjadi partai penyeimbang atau sebaliknya, bergabung dengan koalisi SBY. Segala keputusan tentunya akan berdampak bagi pamor PDIP ke depan sebagai partai ideologis Bung Karno.ย  Termasuk dampak hilangnya cap ideologis dari partai tersebut. (lrn/mok)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads