"Padahal, jika bicara kedekatan ke atas (lingkar dalam SBY), Marzuki dan Anas pun punya. Ditambah, keduanya juga dekat ke grass root karena mereka intens melakukan komunikasi ke pengurus-pengurus DPD. Apalagi, secara politik mereka juga kuat. Anas sebagai ketua bidang politik dan Marzuki Alie sebagai sekjen partai sekaligus Ketua DPR RI. Dengan fakta tersebut, peluang Marzuki dan Anas lebih terbuka," kata pengamat politik Alfan Alfian kepada wartawan di Jakarta, Minggu (4/4/2010).
Marzuki dan Anas, menurut Alfan lebih mengakar di internal PD dan keduanya punya track record yang baik dalam mengurus partai. Bagaimana dengan restu SBY yang tetap menjadi determinan dalam proses pemilihan ketua umum PD?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kongres ini semestinya menjadi momen penting untuk Partai Demokrat. Karena
inilah saatnya Demokrat melakukan transformasi dari partai figur menjadi partai sistem (sistem oriented). Dan jika itu tidak terjadi, di mana yang akan menjadi ketua umum partai adalah bukan pilihan kader tapi restu dari 'atas', akan membuat Partai Demokrat sebagai partai yang tidak demokratis dan bisa ditinggalkan konstituennya," ungkap Alfan.
Sementara, menurut pengamat politik UI Bonie Hargens, peluang Andi Malarangeng sangat kecil. Karena Andi melahirkan tingkat resistensi yang tinggi di internal Demokrat. "Dia (Andi Malarangeng) jelas tidak bisa mewarisi ideologi politik SBY dan kelompoknya karena dia bukan militer dan bukan Jawa. Selama ini Andi hanya menjadi juru bicara presiden, dan tidak pernah mengurus Partai Demokrat secara serius," ujarnya.
Sedangkan Anas, lanjut Bonie, memiliki skill politik yang baik, diterima di basis dan memiliki jaringan cultural. Meskipun secara usia Anas masih muda.
"Kalau Marzuki, sudah pasti memiliki kematangan politik. Terbukti dengan posisinya saat ini, sebagai sekjen partai dan ketua DPR RI. Itu modal yang kuat. Bisa jadi, Marzuki muncul sebagai jalan tengah," ucapnya.
Karena saat ini, lanjut Bonie, Partai Demokrat membutuhkan figur calon ketua umum yang memiliki visi dan misi brilian ke depan, di tengah kondisi krisis dan terpaan ’badai politik’ yang mengarah ke Demokrat.
"Sehingga tidak bisa hanya bermodalkan popularitas. Harus yang visioner. Dan saya yakin, peluang itu ada di Marzuki Alie dan Anas Urbaningrum," pungkasnya.
(zal/mok)











































